Oleh: buletinrsudbima | Januari 22, 2014

Akhirnya RSUD Bima Menjadi BLUD

ImageRumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima di Jalan langsat No. 1 Raba, pada 2 Januari 2014 akhirnya berubah status menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Merujuk pada pedoman teknis pelaksanaan BLUD seperti termuat dalam permandagri no. 61 tahun 2007 bahwa BLUD adalah SKPD atau Unit Kerja pada SKPD di lingkungan Pemda yang menerapkan PPK BLUD dan dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

Pelaksana Tugas Direktur RSUD Bima pada saat menyampaikan sosialisasi akhir sebelum pelaksanaan BLUD di Aula Pemkab Bima Kompleks LLK Jatiwangi, Sabtu (28/12), drg. H. Ihsan, MPH menjelaskan bahwa tidak ada perubahan kelembagaan RSUD Bima. “Yang berubah adalah Pola Pengelolaan Keuangan (PPK) nya”, Ujarnya. Esensi dari BLUD ini adalah agar RSUD dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dengan menerapkan PPK-BLUD, RSUD tidak lagi mempunyai hambatan dalam melakukan pelayanan yang di sebabkan oleh peraturan yang tidak memungkinkan untuk dapat lincah dan cepat dalam memberikan pelayanan. RSUD mendapat hak berupa beberapa fleksibilitas, antara lain pendapatan yang berasal dari jasa layanan tidak disetor ke rekening kas daerah namun ke rekening kas BLUD. Hal ini akan mempermudah dan mempercepat pelayanan kepada pasien, karena pendapatan dapat langsung digunakan untuk belanja, untuk peningkatan pelayanan pasien. Dengan demikian RSUD dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan dapat segera memenuhi pelayanan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) rumah sakit. “Sedangkan pendapatan/dana yang berasal dari APBD/N tetap melalui mekanisme yang berlaku umum”, jelasnya lagi.

Menanggapi beberapa pertanyaan peserta yang berasal dari Kepala Dinas/SKPD, Camat, Kepala Puskesmas maupun jurnalis alumni Magister Manajemen RS UGM 2011 ini menjelaskan bahwa justru dengan BLUD ini merupakan solusi terbaik saat ini untuk mengatasi sebagian besar keluhan masyarakat terkait pelayanan RSUD Bima. “Namun demikian, bukan berarti dengan BLUD, RSUD Bima simsalabim semuanya langsung berubah tanpa masalah atau kendala. Butuh waktu dan proses”, tandasnya.

Terhadap kekuatiran masyarakat bahwa dengan BLUD seperti men-swastanisasikan rumah sakit, dengan BLUD akan membuat tarif rumah sakit melonjak, mantan Ketua Komite Medik RSUD Bima ini mengatakan bahwa anggapan tersebut tidak semuanya benar. “Dengan BLUD, tarifnya memang diharapkan sesuai unit cost. Ini membuat tarifnya naik. Namun demikian, unit cost bukan satu-satunya penentu besarnya tarif. Tarif juga perlu memperhatikan daya beli masyarakat dan tarif pesaing”, jelasnya. Dasar penentuan tarif ini berdasarkan unit cost adalah karena tuntutan pelayanan. “Harus diakui, bahwa masih banyak keluhan masyarakat tentang pelayanan RSUD Bima, hal ini karena memang pelayanan kita belum semuanya sesuai dengan SPM. Nah, tarif sesuai unit cost ini adalah dalam rangka memenuhi SPM. Ini memang memberi efek kalau tarif terlalu tinggi akan membebani masyarakat, sedang kalau tarif terlalu rendah maka SPM tidak akan terpenuhi. Disinilah diperlukan subsidi dari Pemerintah daerah (Pemda). Tarif sesuai unit cost juga akan membuat subsidi dari Pemda akan tepat sasaran. Karena secara bertahap subsidi hanya diberikan kepada pasien yang berada di ruang kelas III”, paparnya.

Loh kok masih harus disubsidi? “Seperti kata Bapak Bupati Bima, Alm. H. Fery Zulkarnain, ST saat melakukan dialog di RSUD Bima, ibarat bayi baru lahir, RSUD Bima gak mungkin langsung bisa jalan sendiri. Lagian, selama rumah sakit merawat pasien miskin maka selama itu juga kewajiban subsidi diberikan oleh pemerintah. Kan orang miskin dipelihara oleh negara”, ujarnya.

Diakhir penjelasannya, Pak Ustazd ini menjelaskan kalau perubahan status RSUD menjadi BLUD ini tidak perlu dikuatirkan. “Sebab, masyarakat tidak mampu bisa memanfaatkan kartu SJSN/BPJS nya (Jamkesmas, red). Sebab konsep SJSN ke depan, asal mau dirawat dikelas III, maka tidak perlu membayar. Dan SPM di kelas III ini juga secara bertahap kita penuhi agar pasien merasa nyaman dan terlayani dengan baik. Bahkan secara bertahap sesuai kemampuan, RSUD Bima juga akan menyiapkan Dana CSR. Jadi, tidak perlu kuatirlah bahwa RSUD Bima akan kehilangan fungsi sosialnya”, jelasnya. “Mengingat pekerjaan ini adalah ikhtiar kita untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat, kami RSUD Bima sangat mengharapkan doa dan dukungan semua pihak, baik di Pemerintah Kabupaten Bima, Pemerintah Kota Bima, masyarakat, LSM, wartawan dan semuanya yang peduli dengan RSUD Bima”, harapnya.

Oleh: buletinrsudbima | Maret 4, 2013

RSUD Bima Bersiap Menuju Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)

Bimtek BLUD RSUD Bima (dari kiri : Pak Wisnu-Kemandagri, Sekda Bima, dan paling kanan direktur RSUD Bima dr. Muhamad Ali, Sp.PD

Bimtek BLUD RSUD Bima (dari kiri : Pak Wisnu-Kemandagri, Sekda Bima, dan paling kanan direktur RSUD Bima dr. Muhamad Ali, Sp.PD

Salah satu amanat Undang-Undang nomor  44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit adalah  keharusan bagi RSUD untuk menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK BLUD). Dengan PPK BLUD, RSUD akan diberi fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan sehingga tidak terkendala dalam pelayanan pasien.

Sejatinya UU ini menghendaki agar seluruh rumah sakit sudah menyesuaikan dengan undang-undang tersebut pada Tahun 2011. Khusus RSUD Bima, persiapan menjadi BLUD sudah dilakukan sejak Tahun 2009. Penyiapan Sumber Daya Manusia, sosialisasi termasuk bimbingan teknis sudah dilakukan. Bahkan pada akhir Tahun 2013, RSUD Bima telah dinilai oleh Tim Bentukan Bupati Bima yang diketuai oleh Drs. H. Masykur, MHS yang juga sebagai Sekretaris daerah Kabupaten Bima. sehingga kita berharap pada Tahun 2013 ini, RSUD Bima segera ditetapkan sebagai Badan Layanan Umum Daerah.

Oleh: buletinrsudbima | Januari 14, 2011

Pengorganisasian Dalam Keperawatan

PENDAHULUAN

Manajemen merupakan proses pelaksanaan kegiatan organisasi melalui upaya orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan manajemen keperawatan dapat diartikan sebagai pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman, kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Pengorganisasian merupakan fungsi manajemen kedua yang penting dilaksanakan oleh setiap unit kerja sehingga tujuan organisasi dapat dicapai dengan berdaya guna dan berhasil guna. Pengorganisasian merupakan pengelompokan yang terdiri dari beberapa aktifitas dengan sasaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan masing-masing kelompoknya untuk melakukan koordinasi yang tepat dengan unit lain secara horizontal dan vertikal untuk mencapai tujuan organisasi sebagai organisasi yang komplek, maka pelayanan keperawatan harus mengorganisasikan aktivitasnya melalui kelompok-kelompok sehingga tujuan pelayanan keperawatan akan tercapai.

Ruang rawat merupakan salah satu pusat pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh semua tim kesehatan dimana semua tenaga termasuk perawat bertanggung jawab dalam penyelesaian masalah kesehatan klien. Pengorganisasian pelayanan keperawatan secara optimal akan menentukan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan Yang menjadi bahasan dalam pelayaan keperawatan diruang rawat meliputi : struktur organisai ruang rawat, pengelompokkan kegiatan (metode pengawasan), koordinasi kegiatan dan evaluasi kegiatan kelompok kerja ; yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang struktur organisasi dalam pelayanan keperawatan untuk mencapai tujuan.

PENGERTIAN PENGORGANISASIAN

Pengorganisasian adalah keseluruhan pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas, tugas, kewenangan dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kegiatan kesatuan yang telah ditetapkan. (Siagian,1983 dalam Juniati) Sedangkan Szilagji (dalam Juniati) mengemukakan bahwa fungsi pengorganisasian merupakan proses mencapai tujuan dengan koordinasi kegiatan dan usaha, melalui penataan pola struktur, tugas, otoritas, tenaga kerja dan komunikasi.

Tiga aspek penting dalam pengorganisasian meliputi :

1. Pola struktur yang berarti proses hubungan interaksi yang dikembangkan secara efektif

2. Penataan tiap kegiatan yang merupakan kerangka kerja dalam organisasi

3. Struktur kerja organisasi termasuk kelompok kegiatan yang sama, pola hubungan antar kegiatan yang berbeda, penempatan tenaga yang tepat dan pembinaan cara komunikasi yang efektif antar perawat.

Pengelolaan kegiatan asuhan keperawatan dapat ditetapkan sesuai dengan kebutuhan klien misalnya unit rawat anak memerlukan kegiatan asuhan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya. Pengorganisasian dapat diuraikan sebagai rangkaian aktifitas menyusun suatu kerangka kerja yang menjadi wadah bagi semua kegiatan usaha kerja sama dengan cara menbagikan, mengelompokkan pekerjaan yang harus dilakukan, menerpakan menjalin hubungan kerja antar bagian dan menjalin hubunagan antar staf dan

atasan.

PRINSIP – PRINSIP PENGORGANISASIAN

1. PEMBAGIAN KERJA

Prinsip dasar untuk mencapai efisiensi yaitu pekerjaan dibagi-bagi sehingga setiap orang memilik tugas tertentu. Untuk ini kepala bidang keperawatan perlu mengetahui tentang :

- pendidikan dan pengalaman setiap staf

- peran dan fungsi perawat yang diterapkan di RS tersebut

- mengetahui ruang lingkup tugas kepala bidang keperawatan dan kedudukan dalam organisasi

- mengetahui batas wewenang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya

- mengetahui hal- hal-hal yang dapat didelegasikan kepada staf dan kepada tenaga non keperawatan

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pengelompokkan dan pembagian kerja

1. jumlah tugas yang dibebankan seseorang terbatas dan sesuai dengan kemampuannya

2. tiap bangsal / bagian memiliki perincian aktivitas yang jelas dan tertulis

3. tiap staf memiliki perincian tugas yang jelas

4. variasi tugas bagi seseorang diusahakan sejenis atau erat hubungannya

5. mencegah terjadinya pengkotakkan antar staf/kegiatan

6. penggolongan tugas berdsasarkan kepentingan mendesak, kesulitan dan waktu

Disamping itu setiap staf mengetahui kepada siapa dia harus melapor, minta bantuan atau bertanya, dan siapa atasan langsung serta dari siapa dia menerima tugas

2. PENDELEGASIAN TUGAS

Pendelegasian adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada staf untuk bertindak dalam batas-batas tertentu. Dengan pendelegasian, seorang pimpinan dapat mencapai tujuan dan sasaran kelompok melalui usaha orang lain, hal mana merupakan inti manajemen. Selain itu dengan pendelegasian , seorang pimpinan mempunyai waktu lebih banyak untuk melakukan hal lain yang lebih penting seperti perencanaan dan evaluasi. Pendelegasian juga merupakan alat pengembangan dan latihan manajemen yang bermanfaat. Staf yang memiliki minat terhadap tantangan yang lebih besar akan menjadi lebih komit dan puas bila diberikan kesempatan untuk memegang tugas atau tantangan yang penting. Sebaliknya kurangnya pendelegasian akan menghambat inisiatif staf.

Keuntungan bagi staf dengan melakukan pendelegasian adalah mengambangkan rasa tanggung jawab, meningkatkan pengetahuan dan rasa percaya diri, berkualitas, lebih komit dan puas pada pekerjaan.. Disamping itu mamfaat pendelegasian untuk kepala bidang keperawatan sendiri adalah mempunyai waktu lebih banyak untuk melakukan hal-hal lain seperti perencanaan dan evaluasi, meningkatkan kedewasaan dan rasa percaya diri, memberikan pengaruh dan power baik intern maupun ekstern, dapat mencapai pelayanan dan

sasaran keperawatan melalui usaha orang lain.

Walaupun pendelegasian merupakan alat manajemen yang efektif, banyak pimpinan yang gagal mengerjakan pendelegasian ini. Beberapa alasan yang menghambat dalam melakukan pendelegasian :

- meyakini pendapat yang salah “Jika kamu ingin hal itu dilaksanakan dengan tepat, kerjakanlah sendiri”.

- kurang percaya diri

- takut dianggap malas

- takut persaingan

- takut kehilangan kendali

- merasa tidak pasti tentang apa dan kapan melakukan pendelegasian, mempunyai definisi kerja yang tidak jelas

- takut tidak disukai oleh staf, dianggap melemparkan tugas

- menolak untuk mengambil resiko tergantung pada orang lain

- kurang kontrol yang memberikan peringatan dini adanya masalah, sehubungan dengan tugas yang didelegasikan

- kurang contoh dari pimpinan lain dalam hal mendelegasikan

- kurang keyakinan dan dan kepercayaan terhadap staf, merasa staf kurang memiliki ketrampilan atau pengetahuan untuk melakukan tugas tersebut.

Dalam pendelegasian wewenang, masalah yang terpenting adalah apa tugas dan seberapa besar wewenang yang harus dan dapat dilimpahkan kepada staf.

Hal ini tergantung pada :

a. Sifat kegiatan ; untuk kegiatan rutin, delegasi wewenang dapat diberikan lebih besar kepada staf.

b. Kemampuan staf ; tugas yang didelegasikan jangan terlalu ringan atau terlalu berat.

c. Hasil yang diharapkan ; Applebaum dan Rohrs menyarankan agar pimpinan jangan mendelegasikan tanggung jawab untuk perencanaan strategik atau mengevaluasi dan mendisiplin bawahan baru. Mereka juga menyarankan agar mendelegasikan tugas yang utuh dari pada mendelegasikan sebagian aspek dari suatu kegiatan.

Beberapa petunjuk untuk melakukan pendelegasian yang efektif :

- jangan membaurkan dengan pelemparan tugas. Oleh karena itu jangan mendelegasikan tugas yang anda sendiri tidak mau melakukannya.

- jangan takut salah

- jangan mendelegasikan tugas pada seseorang yang kurang memiliki ketrampilan atau pengetahuan untuk sukses

- kembangkan tingkat keterampilan dan pengetahuan staf, sehingga mereka dapat melakukan tugas yang didelegasikan

- perlihatkan rasa percaya atas kemampuan staf untuk berhasil

- antisipasi kesalahan yang dapat terjadi dan ambil langkah pemecahan masalahnya

- hindari kritik bila terjadi kesalahan

- berikan penjelasan yang jelas tentang tanggung jawab, wewenang, tanggung gugat dan dukungan yang tersedia

- berikan pengakuan dan penghargaan atas tugas yang telah terlaksana dengan baik

Langkah yang harus ditempuh agar dapat melakukan pendelegasian yang efektif :

1. tetapkan tugas yang akan didelegasikan

2. pilihlah orang yang akan diberi delegasi

3. berikan uraian tugas yang akan didelegasikan dengan jelas

4. uraikan hasil spesifik yang anda harapkan dan kapan anda harapkan hasil tersebut

5. jelaskan batas wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki staf tersebut

6. minta staf tersebut menyimpulkan pokok tugasnya dan cek penerimaan staf tersebut atas tugas yang didelegasikan.

7. tetapkan waktu untuk mengontrol perkembangan

8. berikan dukungan

9. evaluasi hasilnya

3. KOORDINASI

Koordinasi adalah keselarasan tindakan, usaha, sikap dan penyesuaian antar tenaga yang ada dibangsal. Keselarasan ini dapat terjalin antar perawat dengan anggota tim kesehatan lain maupun dengan tenaga dari bagian lain.

Manfaat Koordinasi:

- menghindari perasaan lepas antar tugas yang ada dibangsal / bagian dan perasaan lebih penting dari yang lain

- menumbuhkan rasa saling membantu

- menimbulkan kesatuan tindakan dan sikap antar staf

Cara koordinasi:

Komunikasi terbuka, dialog, pertemuan/rapat, pencatatan dan pelaporan, pembakuan formulir yang berlaku.

4. MANAJEMEN WAKTU

Dalam mengorganisir sumber daya, sering kepala bidang keperawatan mengalami kesulitan dalam mengatur dan mengendalikan waktu. Banyak waktu pengelola dihabiskan untuk orang lain. Oleh karena itu perlu pengontrolan waktu sehingga dapat digunakan lebih efektif.

Untuk mengendalikan waktu agar lebih efektif perlu :

1. analisa waktu yang dipakai; membuat agenda harian untuk menentukan kategori kegiatan yang ada

2. memeriksa kembali masing-masing porsi dari tiap aktifitas

3. menentukan prioritas pekerjaan menurut kegawatan, dan perkembangannnya serta tujuan yang akan dicapai

4. mendelegasikan

Hambatan yang sering terjadi pada pengaturan waktu

- terperangkap dalam pekerjaan

- menunda karena takut salah

- tamu yang tidak terjadwal

- telpon

- rapat yang tidak produktif

- peraturan “open door”

- tidak dapat mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak perlu

PENGORGANISASIAN KEGIATAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT

Kepala ruangan bertanggung jawab untuk mengorganisasi kegiatan asuhan keperawatan di unit kerjanya untuk mencapai tujuan pengorganisasian, pelayanan keperawatan di ruangan meliputi :

1. Struktur Organisasi

Struktur organisai ruang rawat terdiri dari struktur bentuk dan bagan. Berbagai struktur, bentuk dan bagan dapat digunakan tergantung pada besarnya organisasi dan tujuan yang ingin dicapai. Ruang rawat sebagi wadah dan pusat kegiatan pelayanan keperawatan perlu memiliki struktur organisasi tetapi ruang rawat tidak termasuk dalam struktur organisasi raumah sakit bila dilihat dari surat keputusan menteri Kesehatan no. 134 dan 135 tahun 1978. oleh karena itu direktur rumah sakit perlu menerbitkan surat keputusan yang ngatur struktur organisasi

ruang rawat.

Berdasarkan surat keputusan direktur tersebut dibuat struktur organisasi ruang rawat untuk menggambarkan pola hubungan antar bagian atau staf atasan baik vertikal maupun horizontal. Dapat juga dilihat posisi tiap bagian, wewenang dan tanggung jawab serta tanggung gugat. Bentuk organisasi dapat pula disesuaikan dengan pengelompokkan kegiatan atau sistem penugasan yang digunakan.

2. Pengelompokkan Kegiatan

Setiap organisasi memiliki serangkaian tugas atau kegiatan yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan. Kegiatan perlu dikumpulkan sesuai dengan spesifikasi tertentu. Pengorganisasian kegiatan dilakukan untuk memudahkan pembagian tugas pada perawat sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan dimiliki peserta sesuai dengan kebutuhan klien pengorganisasian tugas perawat ini disebut metode penugasan.

Keperawatan diberikan karena ketidakmampuan, ketidaktahuan dan ketidakmampuan klien dalam melakukan aktifitas untuk dirinya dalam upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal. Setiap kegiatan keperawatan diarahkan kepada pencapaian tujuan dan merupakan tugas menejer keperawatan untuk selalu mengkoordinasi, mengarahkan dan mengendalikan proses pencapaian tujuan melalui interaksi, komunikasi, integrasi pekerjaan diantara staf keperawatan yang terlibat.

Dalam upaya mecapai tujuan tersebut meneger keperawatan dalam hal ini kepala ruangan bertanggung jawab mengorganisir tenaga keperawatan yang ada dan kegiatan pelayanan keperawatan yang akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien, sehingga kepala ruangan perlu mengkatagorikan klien yang ada diunit kerjanya. Menurut Kron (1987) kategori klien didasarkan atas : Tingkat pelayanan keperawatan yang dibutuhkan klien, misalnya keperawatan mandiri, minimal, sebagian, total atau intensif. Usia misalnya anak, dewasa, usia lanjut. Diagnosa/masalah kesehatan yang dialami klien misalnya perawatan bedah/ortopedi, kulit. Terapi yang dilakukan, misalnya rehabilitas, kemoterapi. Dibeberapa rumah sakit ini pengelompokkan klien didasarkan atas kombinasi kategori diatas.

Selanjutnya kepala ruangan bertanggung jawab menetapkan metode penyusunan keperwatan apa yang tepat digunakan di unit kerjanya untuk mencapai tujuan sesuai dengan jumlah katagori tenaga yang ada di ruangan serta jumlah klien yang menjadi tanggung jawabnya.

MACAM – MACAM METODE PENUGASAN KEPERAWATAN

Berbagai metode penugasan keperawatan yang dapat digunakan dengan beberapa keuntungan dan kerugian.

Metode tersebut antara lain :

1. Metode Fugsional

Yaitu pengorganisasian tugas pelayanan keperawatan yang didasarkan kepada pembagian tugas menurut jenis pekerjaan yang dilakukan. Contoh : Perawat A tugasnya menyuntik, perawat B tugasnya mengukur suhu badan klien.

Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di unit tersebut. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan menerima laporan tentang semua klien serta menjawab semua pertanyaan tentang klien.

Keuntungan

- Perawat terampil untuk tugas /pekerjaan tertentu.

- Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai tugas.

- Kekurangan tenaga yang ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu tugas yang sederhana.

- Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta didik yang praktek untuk ketrampilan tertentu.

Kerugian

- Pelayanan keperawatan terpilah-pilah atau total sehingga proses keperawatan sulit dilakukan.

- Apabila pekerjaan selesai cenderung meninggalkan klien dan melakukan tugas non keperawatan.

- Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit diidentifikasi kontribusinya terhadap pelayanan.

- Perawat hanya melihat asuhan keperawatan sebagai keterampilan saja.

2. Metode alokasi klien/keperawatan total

Yaitu pengorganisasian pelayanan/asuhan keperawatan untuk satu atau beberapa klien oleh satu orang perawat pada saat bertugas/jaga selama periode waktu tertentu atau samapi klien pulang. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas dan menerima semua laporan tentang pelayanan keperawatan klien.

Keuntungan

- Fokus keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.

- Memberikan kesempatan untuk melakukan keperawatan yang komprehensif.

- Memotivasi perawat untuk selalu bersama kien selama bertugas, non keperawatan dapat dilakukan oleh yang bukan perawat

- Mendukung penerapan proses keperawatan

- Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai

Kerugian

- Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin yang

sederhana terlewatkan.

- Peserta didik sakit untuk melatih keterampilan dalam perawatan besar, misalnya

: menyuntik, mengukur suhu

- Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat penanggung

jawab klien bertugas.

3. Metode tim keperawatan /keperawatan kelompok

Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok klien dan sekelompok klien. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya (“registered nurse”).

Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pimpinan kelompok/ketua grup. Selain itu ketua grup bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota grup/tim. Sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila menjalani kesulitan Selanjutnya ketua grup yang melaporkan pada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan/asuhan keperawatan terhadap klien.

Keuntungan

- Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif

- Memungkinkan pencapaian proses keperawatan

- Konflik atau perbedaan pendapat antar staf daapt ditekan melalui rapat tim cara

ini efektif untuk belajar.

- Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal

- Memungkinkan menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.

Kerugian

- Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau terburu-buru sehingga dapat mengakibatkan komunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga kelancaran tugas terhambat.

- Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.

- Akontabilitas dalam tim kabur.

4. Metode keperawatan primer/utama (Primary Nursing)

Yaitu pengorganisasian pelayanan/asuhan keperawatan yang dilakukan oleh satu orang “registered nurse” sebagai perawat primer yang bertanggung jawab dalam asuhan keperawatan selama 24 jam terhadap klien yang menjadi tanggung jawabnya mulai dari masuk sampai pulang dari rumah sakit. Apabila perawat primer/utama libur atau cuti tanggung jawab dalam asuhan keperawatan klien diserahkan pada teman kerjanya yang satu level atau satu tingkat pengalaman dan keterampilannya (associate nurse).

Keuntungan

- Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan.

- Memungkinkan asuhan keperawatan yang komprehensif

- Memungkinkan penerapan proses keperawatan

- Memberikan kepuasan kerja bagi perawat

- Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan

Kerugian

- Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional

- Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain

5. Metode “modular”

Yaitu pengorganisasian pelayanan/asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat profesional dan non profesional (trampil) untuk sekelompok klien dari mulai masuk rumah sakit sampai pulang disebut tanggung jawab total atau keseluruhan. Untuk metode ini diperlukan perawat yang berpengetahuan, terampil dan memiliki kemampuan kepemimpinan. Idealnya 2-3 perawat untuk 8 – 12 orang klien.

Keuntungan dan Kerugian

Sama dengan gabungan antara metode tim dan metode perawatan primer.

Semua metode di atas dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi ruangan. Jumlah staf yang ada harus berimbang sesuai dengan yang telah dibahas pembicara yang sebelumnya. Selain itu kategori pendidikan tenaga yang ada perlu diperhatikan sesuai dengan kondisi ketenagaan yang ada saat ini di Indonesia khususnya di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo metode tim lebih memungkinkan untuk digunakan, selain itu menurut organisasi rumah sakit Amerika bahwa dari hasil penelitian dinyatakan 33% rumah sakit menggunakan metode Tim, 25% perawatan total/alokasi klien, 15% perawatan primer dan 12% metode fungsional (Kron & Gray, 1987). Dengan demikian metode tim tepat digunakan.

KONSEP MODEL KEPERAWATAN TIM

Model keperawatan tim sebaiknya dilakukan sesuai dengan memperhatikan konsep-konsep berikut :

1. Ketua Tim sebaiknya perawat yang berpindidikan/berpengalaman, terampil dan memiliki kemampuan kepemimpinan. Jika hanya seorang “registered nurse” yang bertugas dia harus menjadi ketua tim. Ketua Tim juga harus mampu menentukan prioritas kebutuhan asuhan keperawatan klien, merencanakan, melakukan supervisi dan evaluasi pelayanan keperawatan. Selain itu harus mampu memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan filosofi keperawatan. Uraian tugas untuk ketua tim dan anggota tim harus jelas dan spesifik.

2. Komunikasi yang efektif diperlukan untuk kelanjutan asuhan keperawatan.

Dengan demikian pencatatan rencana keperawatan untuk tiap klien harus selalu tepat waktu dan asuhan keperawatan selalu dinilai kembali untuk validitasnya.

3. Ketua tim harus menggunakan semua teknik manajemen dan kepemimpinan

4. Pelaksanaan keperawatan tim sebaiknya fleksibel atau tidak kaku. Metode tim dapat dilakukan pada shift pagi, sore atau malam di unit manapun. Sejumlah tenaga dapat terlibat dalam tim, minimal dua sampai tiga tim. Jumlah atau besarnya tim bergantung dari banyaknya staf. Dua orang perawat dapat dikatakan tim, terutama untuk shift sore dan malam, dimana jumlah tenaga terbatas.

Tanggung jawab Ketua Tim

- Mengkaji setiap klien dan menerapkan tindakan keperawatan yang tepat.

Pengkajian merupakan proses yang berlanjut dan berkesinambungan. Dapat dilakukan serah terima tugas.

- Mengkoordinasikan rencana perawatan yang tepat waktu, membimbing anggota tim untuk mencatat tindak kepemimpinan yang telah dilakukan

- Meyakinkan semua hasil evaluasi berupa respon klien terhadap tindakan keperawatan tercatat.

- Menilai kemajuan semua klien dari hasil pengamatan langsung atau laporan anggota tim Tanggung jawab Anggota Tim

- Menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk setiap klien di unit tersebut. Misalnya pada saat jam makan siang staf dan rapat tim – Mengikuti instruksi keperawatan yang tertera dalam rencana keperawatan secara teliti termasuk program pengobatan

- Melaporkan secara tepat dan akurat tentang asuhan yang dilakukan serta respon yang ditunjukkan klien

- Menerima bantuan dan bimbingan ketua tim

Tanggung jawab Kepala Ruang Pada Penugasan Tim

- Menetapkan standar kinerja staf

- Membantu staf menetapkan sasaran keperawatan pada unit yang dipimpinnya

- Memberikan kesempatan pada klien tim dan membantu untuk mengembangkan ketrampilan manajemen dan kepemimpinan.

- Secara berkesinambungan mengorientasikan staf baru tantang prosedur tim keperawatan

- Menjadi narasumber bagi ketua tim dan staf tempat diskusi

- Memotivasi staf untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan

- Melakukan kemunikasi terbuka untuk setiap staf yang dipimpinnya

3. Koordinasi kegiatan

Kepala ruangan sebagai koordinator kegiatan perlu menciptakan kerjasama yang selaras satu sama lain dan saling menunjang, untuk menciptakan suasana kerja yang menyenangkan. Selain itu harus memperlihatkan prinsip-prinsip organisasi yang telah dijelaskan diatas misalnya kesatuan komando, setiap staf memiliki satu atasan langsung Rentang kendali 3 sampai 7 staf untuk satu atasan. Pada metode penugasan tim dalam satu ruangan tidak lebih dari 3 sampai 7 dalam satu tim. Selain itu kepala ruangan perlu mendelegasikan kegiatan asuhan keperawatan langsung kepada ketua tim, kecuali tugas pokok, harus dilakukan kepala ruang. Selain itu, kepala ruangan harus mendelegasikan kepada orang yang tepat, mendengarkan saran orang yang didelegasikan dan penerima delegasi harus bertanggung gugat.

4. Evaluasi Kegiatan

Kegiatan yang telah dilakukan perlu dievaluasi untuk menilai apakah pelaksanaaan kegiatan sesuai rencana. Oleh karena itu kepala ruangan berkewajiban untuk memberi arahan yang jelas tentang kegiatan yang akan dilakukan Dengan demikian diperlukan uraian tugas yang jelas untuk masing-masing staf dan prosedur tugas yang diperlukan untuk melakukan kegiatan dengan memperlihatkan keselamatan dan kenyamanan klien, keselamatan dan kenyamanan staf dan fasilitas dengan berdaya guna dan berhasil guna. Selain itu diperlukan juga standar penampilan kerja yang diharapkan dari perawat yang melakukan tugas.

Semua ini perlu dievaluasi secara terus menerus guna dilakukan tindakan koreksi apabila ditemukan penyimpangan dari standar

5. Kelompok Kerja

Kegiatan ruang rawat terlaksana dengan baik melalui kerjasama antar staf satu dan yang lain ; antar kepala ruang dan staf dan staf sehingga perlu adanya kerjasama dan kebersamaan dalam kelompok . Konflik dan hubungan interpersonal yang kurang baik akan mengurangi motivasi kerja, untuk itu diperlukan kebersamaan yang utuh dan solid sehingga dapat meninggkatkan motivasi kerja dan perasaan keterikatan dalam kelompok karena semua perawat yang bekerja dalam satu ruang pada dasarnya merupakan satu kelompok kerja yang perlu bekerja sama satu sama lain, untuk meningkatkan kualitas kerja dalam pencapaian tujuan asuhan keperawatan diruang rawat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Swanburg. C. Russell. Alih Bahasa Samba.Suharyati. (2000). Pengantar

kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Untuk Perawat Klinis. EGC. Jakarta

La Monica L. Elaine. Alih Bahasa Nurachmah. Elly. (1998). Kepemimpinan dan

Manajemen Keperawatan, Pendekatan Berdasarkan Pengalaman. EGC. Jakarta

Oleh: buletinrsudbima | Januari 14, 2011

Langkah-Langkah Membentuk Komite Keperawatan

Langkah-langkah membentuk komite keperawatan

Asuhan yang berkualitas mempunyai beberapa elemen (ICN) : 1. Meningkatnya kesehatan dalam waktu sesingkat mungkin, 2. Menekankan kepada pencegahan, penemuan dini, dan treatment, 3. Diberikan pada waktu yang tidak tertunda, 4. Dengan landasan pemahaman terjadi kerjasama dan partisipasi klien dalam membuat keputusan tentang proses asuhan, 5. Berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah dan cakap dalam penggunaan teknologi dan sumber-sumber keprofesian, 6. Menunjukan kesadaran akan stres dan kecemasan klien (dan keluarga) dengan concern akan kesejahteraan klien secara menyeluruh, 7. Memanfaatkan dengan efisien teknologi yang tepat dan sumber-sumber asuhan kesehatan lain, dan 8. Secara memadai didokumentasikan untuk memungkinkan kontinuitas asuhan dan telaah sejawat.
Asuhan yang berkualitas dapat dicapai dengan adanya profesionalisme keperawatan. Pelayanan keperawatan profesional di RS diberikan oleh kelompok keperawatan. Kelompok keperawatan yang bertanggung jawab untuk terlaksananya peran dan kegiatan perawat di RS dapat berupa komite yang berada dalam struktur tetapi menjalankan peran fungsional. Komite Keperawatan di RS merupakan media utama untuk mengakomodasi dan memfasilitasi tumbuhnya komunitas profesi keperawatan melalui sistem pengampu keilmuan yang dapat mempertahankan profesionalisme pelayanan keperawatan yang diberikan.

A. Pengertian
Komite Keperawatan merupakan wadah non struktural yang berkembang dari struktur organisasi formal rumah sakit bertujuan untuk menghimpun, merumuskan dan mengkomunikasikan pendapat dan ide-ide perawat/bidan sehingga memungkinkan penggunaan gabungan pengetahuan, keterampilan, dan ide dari staf profesional keperawatan.
Komite Keperawatan merupakan oganisasi yang berfungsi sebagai wahana bagi tenaga keperawatan untuk berpartisipasi dalam memberikan masukan tentang hal-hal yang terkait masalah profesi dan teknis keperawatan.

B. Prinsip kegiatan Komite Keperawatan
1. Prinsip sinergisme yang memberlihatkan thinking power kelompok terpilih untuk bersama-sama berupaya memperoleh keluaran yang lebih efektif.
2. Tenaga keperawatan profesional diberdayakan untuk berkontribusi secara kolektif terhadap proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pelayanan keperawatan.

C. Tujuan pembentukan Komite Keperawatan
Mewujudkan profesionalisme dalam pelayanan keperawatan :
1. Mengorganisasi kegiatan pelayanan keperawatan melalui penggabungan pengetahuan, keterampilan dan ide-ide.
2. Menggabungkan sekelompok orang yang menyadari pentingnya sinergi dan kekuatan berpikir agar dapat memperoleh output yang paling efektif.
3. Meningkatkan otonomi tenaga keperawatan dalam pengelolaan pelayanan keperawatan di RS.

D. Peran Komite Keperawatan
1. Fasilitator pertumbuhan dan perkembangan profesi melalui kegiatan yang terkoordinasi.
2. Tim kendali mutu untuk mempertahankan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan aman.
3. Problem solver dalam mengatasi masalah keperawatan yang terkait dengan etik dan sikap moral perawat.
4. Investigator, kelompok peneliti yang mengkaji berbagai aspek keperawatan untuk meningkatkan pelayanan.
5. Implementator,vmenjamin diterapkannya standar praktek, asuhan, dan prosedur.
6. Human relation team, menjamin hubungan kerja dengan staff
7. Designer/implementator/pemantau dan evaluator ide baru.
8. Komunikator, edukator, negosiator, dan pemberi rekomendasi terhadap hasil kerja staff.

E. Fungsi Komite Keperawatan
Dalam kaitan dengan pelayanan keperawatan di rumah sakit
1. Menjamin tersedianya norma-norma : standar praktek/asuhan/prosedur keperawatan sesuai lingkup asuhan dan pelayanan serta aspek penting asuhan di seluruh area keperawan
2. Menjaga kualitas asuhan melalui perumusan rencana peningkatan mutu keperawatan tingkat rumah sakit: menetapkan alat-alat pemantauan, besar sampel, nilai batas, metodologi pengumpulan data, tabulasi, serta analisis data.
3. Mengkoordinasi semua kegiatan pemantauan mutu dan evaluasi keperawatan : jenis kegiatan, jadwal pemantauan dan evaluasi, penanggung-jawab pelaksana.
4. Mengintegrasikan proses peningkatan mutu keperawatan dengan rencana rumah sakit untuk menemukan kecenderungan dan pola kinerja yang berdampak pada lebih dari satu departemen atau pelayanan.
5. Mengkomunikasikan informasi hasil telaah mutu keperawatan kepada semua yang terkait, misalnya komite mutu rumah sakit.
6. Mengusulkan solusi kepada manajemen atas masalah yang terkait dengan keprofesionalan tenaga dan asuhan dalam sistem pemberian asuhan, misalnya sistem pelaporan pasien, penugasan staf.
7. Memprakarsai perubahan dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
8. Berpartisipasi dalam komite mutu tingkat rumah sakit.
9. Mempertahankan keterkaitan antara teori, riset dan praktek.

Dalam kaitan dengan anggota
1. Menetapkan lingkup praktek, kompetensi dan kewenangan fungsional tenaga keperawatan.
2. Merumuskan norma-norma: harapan dan pedoman perilaku.
3. Menyediakan alat ukur pantau kinerja tenaga keperawatan.
4. memelihara dan meningkatkan kompetensi untuk meningkatkan kinerja anggota.
5. Membina dan menangani hal-hal yang berkaitan dengan etika profesi keperawatan.
6. Mewujudkan komunitas profesi keperawatan.
7. Merumuskan sistem rekruitmen dan retensi staff.

F. Garis besar tugas Komite Keperawatan
1. Menyusun dan menetapkan Standar Asuhan Keperawatan di RS
2. Memantau pelaksanaan asuhan keperawatan
3. Menyusun model Praktek Keperawatan Profesional
4. Memantau dan membina perilaku etik dan profesional tenaga keperawatan
5. Meningkatkan profesionalisme keperawatan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan seiring kemajuan IPTEK yang terintegrasi dengan perilaku yang baik.
6. Bekerja-sama dengan Direktur/bidang keperawatan dalam merencanakan program untuk mengatur kewenangan profesi tenaga keperawatan dalam melakukan asuhan keperawatan sejalan dengan rencana strategi RS.
7. Memberi rekomendasi dalam rangka pemberian kewenangan profesi bagi tenaga keperawatan yang akan melakukan tindakan asuhan keperawatan.
8. Mengkoordinir kegiatan-kegiatan tenaga keperawatan, menyampaikan laporan kegiatan Komite Keperawatan secara berkala (setahun sekali) kepada seluruh tenaga keperawatan RS.

G. Struktur organisasi Komite Keperawatan

1. Ketua Komite
Tujuan : Memberi kepemimpinan dan arah kepada sub komite
Lingkup tugas :
a. Mereview berbagai isu yang disajikan dan merujuk ke sub komite yang sesuai.
b. Menjaga dan merekomendasi perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
c. Memberi bimbingan dan dukungan kepada sub komite.
d. Memfasilitasi proses penetapan tujuan tahunan sub komite
e. Mereview jadwal operasional tahunan

2. Sub Komite Praktek Keperawatan
Tujuan : Menetapkan, mengimplementasikan dan menjaga standar praktek klinik keperawatan tertinggi, konsisten dengan standar profesional yang ditetapkan dan atau yang berkembang dan yang dipersaratkan lembaga pengatur.
Lingkup tugas :
a. Menetapkan lingkup praktek dari perawat profesional dan vokasional : peran dan tanggung jawab staf penunjang asuhan, dan kompetensi umum dan khusus.
b. Menyusun dan memperbaiki uraian tugas dari staf klinik.
c. Berpartisipasi dalam tim kredensial dari para pelaksana praktek yang ditetapkan.
d. Mereview, menyetujui, dan memperbaiki standar asuhan klinik dibidang dimana asuhan keperawatan diberikan.
e. Menyusun format evaluasi dan review sejawat untuk semua perawat klinik.
f. Menggunakan temuan-temuan riset keperawatan kedalam praktek klinik bila cocok.
g. Menyusun dan merevisi sistem dokumentasi keperawatan

3. Sub Komite Pengembangan Profesi
Tujuan : Menetapkan, mengimplementasikan, dan menjaga standar kependidikan yang meningkatkan pertumbuhan keprofesian dan kompetensi klinik tanpa henti.
Lingkup tugas :
b. Menetapkan dan mengevaluasi kebutuhan pendidikan keperawatan dan menetapkan proses-proses untuk memenuhi kebutuhan kependidikan staf bersamaan dengan pengembangan staf.
c. Meningkatkan akontabilitas individual para perawat untuk pendidikanyang diwajibkan dan memfasilitasi proses kredensial/sertifikasi ulang.
d. Menetapkan peran dan tanggung jawab preseptor.
e. Memelihara lingkungan yang kondusif untuk peningkatan dan pemanfaatan riset keperawatan.
f. Berpartisipasi dalam program rekruitmen, pengakuan, dan retensi melalui kolaborasi dengan bagian SDM/HRD.

4. Sub Komite Mutu Keperawatan
Tujuan : Memantau ketepatan dan efektifitas asuhan yang diberikan oleh staf keperawatan sekaligus mengkaji dan memastikan kepatuhan dengan standar dan praktek yang ditetapkan.
Lingkup tugas :
a. Menyusun, merevisi dan menyetujui rencana peningkatan mutu keperawatan.
b. Mengintegrasikan peningkatan mutu keperawatan dengan rencana RS.
c. Memantau dan memastikan kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan.
d. Memastikan kepatuhan terhadap jadwal pelaporan untuk perbaikan kinerja komite.
e. Mensahkan dan memantau rencana peningkatan mutu unit.

H. Susunan organisasi
1. Komite Keperawatan:
a. Terdiri dari ketua, wakil dan sekretaris dan anggota.
b. Ketua dipilih anggota dari 3 (tiga) calon ketua.
c. Dipilih setiap 3 tahun dan ditetapkan dengan SK direksi.
d. Anggota dipilih dari perwakilan bidang keahlian dan kelompok tenaga keperawatan, misalnya medikal bedah, anak, kritikal dan kelompok Perawat Klinik, peer manager dll.
e. Komite Keperawatan mempunyai sub komite.

I. Hubungan Komite dengan Direktur/Bidang Keperawatan
Komite mempunyai peran yang sanat besar dalam membantu direksi dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Hubungan Komite dengan Direktur/Bidang keperawatan bukan hubungan atasan-bawahan, melainkan hubungan kerjasama, koordinasi, kemitraan, dan saling menguatkan.

Komite Keperawatan dapat menjadi :
1. Media utama untuk mengakomodasi dan memfasilitasi berkembangnya profesional keperawatan yang dapat mempertahankan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan.
2. Menjadi mitra direktur/bidang keperawatan dalam mencapai visi dan misi serta tujuan bidang keperawatan.
3. Membantu fungsi-fungsi manajemen dan menyelesaikan persoalan operasional.
4. Memberi penasehatan terkait aspek profesi keperawatan.

Komite dalam struktur organisasi RSU kelas A (Depkes,2006)

Komite dalam struktur organisasi RSU kelas C

J. Persiapan pembentukan Komite Keperawatan
1. Membentuk panitia persiapan
2. Pengarahan bagi panitia persiapan
3. Bedah buku, belajar dari komite RS lain.
4. Menyusun program kerja : tujuan, sasaran, susunan organisasi, tata kerja, jadwal pertemuan, mekanisme laporan, masa kerja komite.
5. Presentasi pada pimpinan daerah/dewan pendiri dan direksi RS.
6. Sosialisasi.
7. Pembentukan dan pengesahan komite.
8. Implementasi kerja komite.
9. Evaluasi.

Oleh: buletinrsudbima | Januari 14, 2011

AKREDITASI POKJA KEPERAWATAN

Rumah Sakit RSUD Bima sedang Mempersiapkan Akreditasi Pokja Keperawatan dengan Tim Sbb :

Oleh: buletinrsudbima | Juni 11, 2009

Hasil Lomba Pelayanan Publik Diumumkan

Hasil Lomba pelayanan publik antar ruangan dan intalasi tingkat RSUD Bima diumumkan (Rabu, 10 Juni 2009).

Direktur, Ketua Tim saat Pengumuman Pemenang LombaDirektur, Ketua Tim saat Pengumuman Pemenang Lomba

Pengumuman ini adalah puncak dari kegiatan sosialisasi, pembenahan dan perbaikan selama 1 bulan terakhir. Pada 1 Juni lalu Tim Penilaian RSUD Bima telah melaksanakan tugas dan kemarin hasil penilaian itu diumumkan. Direktur RSUD Bima dr. Hj. Tini Wijanari dalam sambutannya mengatakan bahwa lomba ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan citra pelayanan public. “Dengan lomba ini kita berharap bahwa semua ruangan/unit dan instalasi terpacu untuk menata diri. Sehingga bisa memberikan kenyamanan bagi pasien dan keluarganya”, ujar direktur sesaat sebelum pengumuman lomba. Pada kesempatan itu direktur menyampaikan ucapan selamat kepada para juara, namun direktur juga memperingatkan agar para juara ini dapat mempertahankan apa yang di raih saat ini. “Kita akan menilai kembali mana “juara bertahan”. Jangan-jangan juaranya hanya pada saat penilaian”, ujar dr. Tini. “Sebab menurut informasi yang saya peroleh dari Tim Penilai, sebenarnya nilai dari masing-masing ruangan/instalasi tuh berbeda tipis. Karena nya saya senang dengan semua partisipasi yang telah diberikan karyawan RSUD Bima untuk kegiatan lomba ini”, imbuhnya lagi. Pada akhir acara, direktur menyerahkan hadiah dan juga piagam penghargaan kepada para pemenang lomba.

direktur_hadiah buat intalasi terbaikdirektur_hadiah buat intalasi terbaik

Sementara itu, Ketua Tim penilai H. Nasrullah, S.Sos, kembali menegaskan bahwa criteria penilaian meliputi 14 parameter dengan 7 orang tim penilai dari masing-masing bidang penilaian.”Tim, telah berusaha seobyektif mungkin dalam memberikan penilaian. Nilainya ternyata beda tipis”, ujarnya. “Kalaupun akhirnya ada juara 1, 2 dan 3, biasanya lebih disebabkan oleh pemahaman ruangan yang bersangkutan terhadap visi misi rumah sakit”, jelasnya lagi. Bahkan H. Nasrullah menjelaskan untuk memberikan penghargaan terhadap apresiasi yang diberikan oleh ruangan/instalasi, tim penilai akhirnya menambah 2 kategori penilaian yaitu : kebersihan terbaik dan Kreasi-Inovasi terbaik.

Para pemenang lomba dengan hadiah dan piagam penghargaanPara pemenang lomba dengan hadiah dan piagam penghargaan

Adapun pemenang selengkapnya pada adalah :

A. Antar Instalasi

Kategori Penampilan terbaik

1. Laboratorium

2. Instalasi Gawat Garurat

3. Instalasi Rawat Inap

Salah satu sudut ruang Instalasi laboratorium setelah lombaSalah satu sudut ruang Instalasi laboratorium setelah lomba

Kategori Kebersihan terbaik

1. Instalasi Bedah Central (OK)

2. Instalasi Gizi

3. Instalasi Intensive Care Unit (ICU

Kategori Kreasi dan Inovasi terbaik

1. Instalasi Rawat Inap

2. Instalasi Rawat Jalan

3. Instalasi Rekam Medis

B. Antar Ruangan Rawat Inap

Kategori Penampilan terbaik

1. Ruang bersalin (KBR)

2. Ruang Perawatan VIP B

3. Ruang perawatan VIP A

Salah satu meja kerja sebelum dan sesudah lombaSalah satu meja kerja sebelum dan sesudah lomba

Kategori Kebersihan terbaik

1. Ruang Perawatan Anak

2. Ruang Perawatan Bedah

3. Ruang Perawatan VIP B

Kategori Kreasi dan Inovasi terbaik

1. Ruang Perawatan VIP A

2. Ruang Perawatan Peny. Dalam

3. Ruang bersalin (KBR)

C. Antar Poliklinik Rawat Jalan

Kategori Penampilan terbaik

1. Poli Gigi                              2. Poli Anak                     3. Poli Mata

Poli Gigi_Seni dan keindahan pada kursi pasienPoli Gigi_Seni dan keindahan pada kursi pasien

Kategori Kebersihan terbaik

1. Poli Bedah                 2. Poli Kandungan                 3. Poli Peny.Dalam

Kategori Kreasi dan Inovasi terbaik

1. Poli Mata   2. Poli THT     3. Poli Gigi

Oleh: buletinrsudbima | Juni 3, 2009

RSUD BIMA GELAR LOMBA PELAYANAN ANTAR RUANGAN

Terinspirasi Kegiatan 5 R HMT dan HUT Bima Untuk meningkatkan mutu dan kesan umum yang baik terhadap RSUD Bima maka pada awal Juni 2009 ini digelar lomba pelayanan antar ruangan/unit dan instalasi se-RSUD Bima. Salah satu bagian RS sebelum lombaSalah satu bagian RS sebelum lomba

Sebanyak 13 instalasi, 7 ruang rawat inap, seluruh poliklinik ikut serta dalam lomba ini. Pemenang lomba ini dibagi dalam beberapa kategori. Kategori pertama antar instalasi, kedua antar poliklinik dan ketiga antar ruang rawat inap. Kepada pemenang disamping hadiah juga piagam pengharagaan dari direktur RSUD Bima. Untuk menyukseskannya, direktur RSUD Bima sejak 1 bulan lalu membentuk panitia penilai yang meliputi seluruh unsure terkait di RSUD Bima. Tim penilai ini di Pimpin oleh H. Nasrullah, S.Sos (kabid Pelayanan) dengan sekretaris sekaligus anggota Rosdiyana, SKM (kasubid Bimb Askep), anggota tim lainnya adalah Nurdin, S. Adm. (Kasubid Diklat), Syahmir, SKM (Kasi Program), Hayatun Arsyad (Kasubid Kepegawaian), dr. Muhamad Ali, Sp.PD (Ketua Komite Medik), dan Firman, SE, S.Kep. (ketua Komite Perawat).

Salah satu bagian RS setelah lombaSalah satu bagian RS setelah lomba

Tim yang dibentuk telah merumuskan berbagai indicator obyektif penilaian. Hasilnya banyak parameter yang akan dipergunakan. “Kita tidak hanya menilai kebersihan”, ujar H. Nasrullah, S.Sos., selaku Ketua Tim penilai. “Unsur kebersihan itu hanya salah satu unsur 5 R dan 5 R ini hanya salah satu parameter dari 14 parameter penilaian yang kita pakai”, lanjut nya. Menyukseskan kegiatan ini RSUD Bima melalui direktur jauh-jauh hari telah mengumumkan kepada seluruh instalasi, ruangan/unit yang ada. Bahkan direktur meminta bagian dikumentasi agar mengambil gambar di ruangan/instalasi pada saat yang tidak diduga-duga oleh pemilik ruangan. “Sehingga hasilnya lebih obyektif dan sebagai bahan instrospeksi”, ujar direktur kepada warta RSUD yang kebetulan jadi petugas dokumentasi.

Tim Penilai bersama staf ruang bersalinTim Penilai bersama staf ruang bersalin

Hasilnya, saat penilaian resmi dilakukan pada 1 Juni 2009, kata pertama yang terucap dari seluruh tim penilai adalah LUAR BIASA !. bahkan dr. Muhamad Ali, Sp.PD benar-benar merekomendasikan kegiatan ini diadakan secara rutin. “Dari unsure kebersihan, saya pikir semuanya tidak ada masalah. Tinggal beberapa hal seperti ketersediaan dan kepatuhan terhadap protap, pemahaman visi misi rumah sakit dan ruangan masing-masing”, ujar nya. Pantauan warta RSUD Bima yang ikut bersama tim penilai juga melihat hal yang sama. Ruangan-ruangan telah ditata sedemikian bersih dan rapi.

Oleh: buletinrsudbima | Mei 4, 2009

RSUD Bima, Lokasi Pertama Presentasi Tugas Blok

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima terpilih sebagai lokasi pertama presentasi tugas blok I kegiatan HMT. kegiatan ini disamping dikuti seluruh peserta HMT, juga dikuti direktur dari masing-masing RS peserta HMT. Kepala bidang dan unit terkait di RSUD Bima juga dilibatkan.

Pada kegiatan yang berlangsung di Aula RSUD Bima (senin, 4 Mei 2009) seluruh permasalahan tugas blok dipresentasikan oleh masing-masing tim HMT. Bertugas sebagai presenter pertama, tim HMT Bima yang diwakili dr. Hj. Early memaparkan berbagai isyu patient safety di ruang IGD RSUD Bima. Berbagai adverse event (kejadian yang tidak diinginkan) juga coba di identifikasi.  Semua data-data hasil pengukuran tim selama waktu tugas (2 minggu) diketengahkan dihadapan mentor, tim HMT lain, dan karyawan RSUD Bima. 

RS bima presentasi

RS bima presentasi

Presentasi RSUD Bima juga mendapat tanggapan dari beberapa direktur RSU yang hadir pada kegiatan ini. Diantaranya Direktur RS Gerung, RS Sumbawa (di wakili  Kabid), dan direktur RS Dompu. Pada intinya, hampir semua rumah sakit memiliki masalah yang  sama.

Berikutnya, RSUD Dompu memperesentasikan hasil identifikasi patient safety nya dengan fokus ruang perawatan penyakit dalam. Gambar-gambar adverse event  yang ditemui kiranya telah banyak menceritakan besarnya potensi adverse event terjadi.

Sedangkan RSUD Sumbawa yang mengaku tampil “buka-bukaan”, memfokuskan perhatiannya pada isyu patient safety di ruang Kamar operasi (OK). Menarik. Karena dari gambar-gambar yang ditampilkan banyak bercerita tentang resiko adverse event di ruang OK.

Tampil pada urutan terakhir adalah peserta paling jauh. peserta dari negeri seberang. RSUD Gerung. Dengan komandan tim Arif Suryawirawan dan dukungan dari sang direktur drg. Ambaryati cukup membuat presentasi Gerung menjadi hangat dan sukses mengidentifikasi adverse event di Instalasi Farmasi.

Dari berbagai presentasi tersebut, ternyata dibanyak tempat, dibanyak ruangan, bahkan dimanapun di unit-unit pelayanan rumah sakit mempunyai resiko untuk timbulnya adverse event. Karena itu, menurut dr. Tjahyono Kuntjoro, Dr.PH sekaligus pemateri awal Blok II dari UGM yang penting adalah “Budaya patient safety!.

Oleh: buletinrsudbima | April 4, 2009

Beredar, WartaRSUD edisi Maret 2009

wartarsud_maret09

wartarsud_maret09

wartaRSUD, Media Komunikasi RSUD Bima edisi Maret 2009 telah beredar pada Tanggal 1 April kemarin. Ini adalah edisi ke 14 sejak pertama kali diterbitkan tujuh tahun yang lalu. Sepertinya 2 edisi tiap tahun. Kenyataanya tidak demikian. Hanya 3 tahun terakhir inilah buletin ini bisa terbit rutin tiap 3 bulan. Bahkan edisi sekarang terbit setelah 6 bulan dari beredarnya edisi 13. seperti kebanyakan media khusus, wartaRSUD pun sangat tergantung dari waktu para personilnya. Personil warta RSUD juga memiliki tugas pokok masing-masing di RSUD Bima. Bagaimanapun kita tetap bersyukur telah menerbitkan buletin ini.

Oleh: buletinrsudbima | April 1, 2009

Suharnas-Darwis, Ka Irna-Irja Baru

Suharnas, S.Kep dan Darwis, S.Kep., Sejak 1 April 2009 ini diangkat menjadi Kepala Instalasi Rawat Inap (Irna) dan Kepala Instalasi Rawat Jalan (Irja) RSUD Bima. Pengangkatan kedua perawat senior ini guna menggantikan pejabat sebelumnya yang telah memasuki masa pensiun.

RSUD Bima_nas-mut_serah-terima

Didampingi Kabid keperawatan dan Kasubid Bimb Askep                     Suharnas-Mutmainnah_serah-terima jabatan

Suharnas-Darwis, yang sebelumnya menjabat Kepala Ruang Perawatan Penyakit Dalam dan Ruang Perawatan Bedah selanjutnya akan diganti oleh Mutmainnah, S.Kep dan Maani, AMK.

Mutmainnah yang sebelumnya Wakil Kepala Ruang VIP A akan menggantikan Suharnas di Ruang penyakit Dalam, sedangkan Maani yang sebelumnya Wakil Kepala Bedah Sentral akan menggantikan Darwis di Ruang penyakit Bedah.  Surat keputusan penugasan mereka ini tertuang dalam SK direktur RSUD Bima No. 813.2.016/77/RS-B/IV/2009.

“Ini untuk mengefektifkan pekerjaan di rawat inap maupun rawat jalan”, komentar dr. Hj. Tini Wijanari, direktur RSUD Bima.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.