PERANAN STIMULASI DINI PADA PERKEMBANGAN KOGNITIF BAYI

PERANAN STIMULASI DINI PADA PERKEMBANGAN
KOGNITIF BAYI

IGK Oka Nurjaya
Dokter spesialis Anak RSUD Bima
(Dimuat di Warta RSUD Bima edisi : No. 6/IV/Juni 2006)

PENDAHULUAN
Anak merupakan generasi penerus dan menjadi tumpuan serta harapan orang tua. Oleh karena itu mereka perlu dipersiapkan agar kelak menjadi sumber daya yang berkualitas. Upaya ini dimulai sejak dalam kandungan melalui pengasuhan yang baik.1
Stimulasi adalah perangsangan yang datangnya dari lingkungan diluar individu anak. Anak yang banyak mendapatkan stimulasi akan lebih cepat berkembang dibanding yang kurang mendapatkan stimulasi. Stimulasi juga berfungsi sebagai penguat (reinforcement).2
Kognitif adalah proses mengetahui yang melibatkan pengetahuan tentang adanya sesuatu dan penilaian terhadapnya. Perkembangan kognitif meningkat bersamaan dengan usia, dipengaruhi faktor genetik, lingkungan serta interaksi gen-lingkungan.3
Makalah ini akan membahas tentang peranan stimulasi terhadap perkembangan kognitif bayi.

PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA BAYI
Sejak lama konsep tentang kognitif telah banyak dibicarakan para ilmuwan, mulai dari Darwin sampai ke zamannya Piaget, dan masih terus banyak dilakukan penelitian tentang hal tersebut.3
Perkembangan tidak hanya ditentukan oleh genetik ataupun lingkungan (pola pengasuhan), tapi juga ditentukan oleh faktor biopsikososial.4
Penelitian menunjukkan bahwa perkembangan otak dipengaruhi oleh interaksi antara genetik dan pola pengasuhan. Otak terdiri dari 100 milyar neuron saat lahir, tiap neuron berkembang menjadi kira-kira 15.000 sinaps pada umur 3 tahun. Jumlah sinaps tetap bertahan sampai dekade pertama kehidupan, walaupun jumlah neuron berkurang. Beberapa sinaps berkembang, sedangkan yang lainnya menghilang. Jaras yang sering dipakai dipertahankan, yang jarang dipakai dihapus. Pengalaman (nurture) mempunyai pengaruh langsung terhadap sifat fisik otak (nature). Anak dengan kemampuan dan temparemen (nature) berbeda juga mendapatkan stimulus berbeda dari lingkungan (nurture)-nya, dan walaupun masukan (input) lingkungannya sama, masukan tersebut dapat diartikan berbeda.4,5
Pengalaman pada awal kehidupan sangat penting karena proses belajar lebih efisien bila melibatkan sepanjang jaras sinaptik. Pengalaman traumatik dapat menimbulkan gangguan terus menerus pada neurotransmiter dan sistem endokrin sehingga merupakan mediator respons stres, yang mungkin meningkatkan risiko stres mental pada kehidupan selanjutnya. Tapi pengalaman, baik atau buruk, jarang menentukan outcome. Pengalaman menggeser suatu pandangan melalui pengaruhnya terhadap kemampuan anak untuk berespons adaptif terhadap stimulus berikutnya.4
Faktor biologis, psikologis dan sosial mempengaruhi perkembangan secara bersama-sama, berikut ini akan dijelaskan pengaruh masing-masing secara terpisah.4

Pengaruh Biologis
Pengaruh biologis terhadap perkembangan meliputi faktor-faktor genetik, pajanan teratogen intra uterin, rasa sakit post partum, pajanan terhadap zat kimia berbahaya, dan maturasi. Penelitian pada anak kembar menemukan adanya perbedaan besar dalam IQ dan kepribadian disebabkan faktor-faktor genetik. Pengaruh zat teratogen prenatal seperti merkuri dan alkohol, dan insult postpartum seperti meningitis dan cedera otak karena traumatik terhadap perkembangan, sudah banyak diteliti. Beberapa penyakit kronik dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, baik secara langsung maupun melalui perubahan pengalaman yang didapat dari orang tua atau teman sebaya.4
Bayi dengan riwayat kelahiran kecil masa kehamilan juga merupakan faktor risiko keterlambatan perkembangan kognitif.6,7,8,9,10
Demikian juga dengan pemberian ASI akan memberikan tingkat kognitif yang lebih baik dibanding yang diberikan susu formula.11,12
Maturasi fisik dan neurologis menyebabkan anak menjadi berkembang. Umur saat anak dapat berjalan tanpa bantuan rata-rata hampir sama di seluruh dunia, meskipun frekuensi latihan tiap anak tersebut berbeda. Pencapaian lain (misalnya penguasaan kalimat yang kompleks) tidak terlalu terikat dengan proses maturasi. Perubahan maturasi dapat juga menciptakan suatu kemampuan dalam mengatasi masalah tingkah laku pada waktu yang akan datang.4
Pengaruh psikologis………
Pengaruh Psikologis
Pengaruh lingkungan di sekitar anak sangat mempengaruhi l perkembangan. Tahun pertama kehidupan sebagai masa dimana “kepercayaan dasar” diperlihatkan melalui respons ibu terhadap kebutuhan anaknya. 4
Kasih sayang mengacu pada kecenderungan biologis seorang anak untuk dekat dengan orang tuanya pada saat mengalami stres. Anak yang terjamin kasih sayangnya dapat mempergunakan orang tua mereka untuk menumbuhkan kembali pemikiran yang sehat setelah anak itu mengalami stres. Tidak terjaminnya kasih sayang seorang anak merupakan suatu tanda dari hubungan yang tidak serasi antara anak dan orang tua, mungkin mempengaruhi perilakunya serta cara untuk mengatasi berbagai macam persoalan di masa depan.2,4
Perkembangan anak dibedakan menurut ruang lingkup utama seperti motorik kasar, motorik halus, sosial, emosional, bahasa, dan kognisi. Tiap katagori ini merupakan garis atau urutan perubahan perkembangan yang menuju ke suatu pencapaian khusus.4
Pada awal perkembangan kognitif, anak berada dalam tahap sensori motorik. Pada tahap ini keadaan kognitif anak akan memperlihatkan aktifitas-aktifitas motoriknya, yang merupakan hasil stimulasi sensorik.2
Teori kognitif dari Jean Piaget membagi tahap perkembangan sebagai kurun waktu yang berbeda secara kualitatif menjadi perkembangan emosi dan kognitif.4

Tahap Perkembangan4,13
Teori Piaget: Kognitif :

Bayi (0-1 tahun) : Sensorimotor (tahap I-IV)
Toddler(2-3 tahun) : Sensorimotor (tahap V, VII)
Prasekolah (3-6 tahun) : Pre eksploitasi
Usia Sekolah : Eksploitasi kongkrit
Adelesen (12-20 tahun) : Eksploitasi resmi

Piaget identik dengan perkembangan kognitif. Isu sentral dari teori Piaget adalah bahwa perubahan kognisi terjadi lebih banyak dalam hal kualitas, bukan kuantitas. Selama tahapan sensorimotor, pikiran seorang bayi terbatas pada sensasi sedang (moderat) dan kemampuan seorang anak adalah memanipulasi objek. Sebagai contoh, konsep “masuk” adalah bila anak dapat memasukkan kubus ke dalam cangkir. Dengan adanya bahasa, asal pemikiran berubah secara dramatis; simbol-simbol semakin mengambil tempat objek dan tindakan. Tahap kognitif berhubungan dengan periode utama masa anak-anak: preeksploitasi (prasekolah); eksploitasi konkrit (usia sekolah); dan eksploitasi resmi (adolesen). Piaget menggambarkan bagaimana anak secara aktif membangun pengetahuannnya sendiri melalui proses asimilasi yang saling terkait (pengalaman mencoba) dan akomodasi (mengadaptasikan pikiran implisit mereka tentang dunia untuk mendapatkan informasi baru ke dalam “catatannya”). Pada keadaan ini, anak bertindak sebagai “ilmuwan kecil”, membuat lebih banyak teori adaptif dan kompleks. Stadium reorganisasi kognitif dapat dipetakan dengan mengamati anak dan dengan mengajukan pertanyaan terbuka untuk menerangkan teori implisitnya.4
Teori Piaget sangat penting bagi dokter anak berdasarkan tiga alasan:4
1. Membantu merasakan perilaku bayi yang membingungkan, seperti adanya masalah tidur pada umur 9 dan 18 bln.
2. Memberi hasil yang cepat, dengan peralatan sederhana
3. Memberikan pengertian pada anak tentang penyakit dan perawatannya.

Perkembangan Kognitif Usia 0-2 bulan
Pada periode ini rangsangan penglihatan, perabaan, penciuman dan pendengaran memegang peranan penting dalam perkembangan kognisi. Penelitian kebiasaan dan pilihan dalam melihat, memberikan pengertian bagaimana bayi memahami rangsangan tersebut. Bayi mengurangi perhatian pada rangsangan yang berulang dan menambah perhatian nya saat rangsangan itu berubah. Penelitian dengan merubah kebiasaan dan perhatian menunjukkan bahwa bayi dapat membedakan pola, warna dan konsonan. Mereka dapat mengenali ekspresi wajah ( senyum ) sebagai hal yang sama, walaupun orangnya berbeda.2,3,4
Bayi dapat merasakan obyek dan kejadian sebagai suatu kesatuan, sehingga mampu memisahkan rangsangan menjadi bagian yang ada artinya, seperti rangsangan yang cocok untuk menghisap botol, dot atau jari.4

Perkembangan Kognitif Usia 2-6 bulan
Pada usia sekitar 2 bulan dapat tersenyum dengan keinginan sendiri dan meningkatnya kontak sosial. Pada periode ini perkembangan merupakan perubahan kualitatif. Usia 4 bulan disebut sebagai “ penetasan” secara sosial, menjadi lebih tertarik pada dunia yang luas.4
Pada usia ini mereka mempelajari tubuh mereka sendiri, seperti mulai memandangi tangannya, memegang pipi, telinga. Pengenalan ini memperlihatkan tingkat awal dalam pemahaman sebab dan pengaruh, seperti gerakan otot dengan kemauan sendiri menghasilkan rabaan yang dapat diperkirakan dan sensasi penglihatan. Hal ini memegang peranan dalam munculnya pengertian diri sendiri.4

Perkembangan Kognitif Usia 6-12 bulan
Pada periode ini terjadi peningkatan mobilitas dan pengenalan benda mati. Bayi mampu mengembangkan kemauan dan hasratnya.
Pada tahap awal semuanya masuk mulut, kadang-kadang benda diambil, diperiksa dipindahkan dari tanganke tangan, dibanting, dijatuhkan dan kemudian dimasukkan mulut. Setiap aksi memperlihatkan suatu ide non verbal tentang kegunaan benda tersebut. Kompleksitas bermain bayi merupakan indeks perkembangan kognitif yng baik pada usia ini. Kesenangan, ketekunan dan energi yang dipakai untuk melakukan tantangan menggambarkan keberadaan gerak intrinsik atau motivasi penguasaan.4
Pada usa 9 bulan terjadi pencapaian tentang kekonstanan benda yaitu pemahaman bahwa benda terus ada walaupun tidak terlihat. Bayi akan terus mencari, menemukan benda yang disembunyikan. Hal ini berbeda dengan saat usia 4-7 bulan, dimana bayi melihat benda yang dijatuhkan tetapi cepat menyerah bila bendanya sudah tidak terlihat.4

Adapun perkembangan kognitif pada tahun pertama dapat dilihat pada tabel berikut :

Perkembangan Kognitif Pada Tahun Pertama
a. Menatap sebentar pada titik kemana obyek menghilang (misal bola yang jatuh ). Rerata pada umur 2 bulan. Tandanya : Tidak mengingat obyek (hilang dari pandangan hilang dari pikiran)
b. Menatap tangannya sendiri. Rerata pada umur 4 bulan. Tandanya : Penemuan diri, sebab dan akibat
c. Membanting 2 kubus. Rerata pada umur 8 bulan. Tandanya : Aktif membandingkan obyek
d. Menemukan mainan (setelah disembunyika). Rerata pada umur 8 bulan. Tandanya : Mengingat Obyek.
e. Berpura-pura bermain egosentris (misal pura-pura minum dari cangkir ). Rerata pada umur 8 bulan. Tandanya : Mulai berpikir simbolis

TES PERKEMBANGAN
Tes perkembangan kognitf yang sering dipakai pada anak dibawah 1 tahun adalah :14,15
1. Skala Piaget
2. Fagan test of Infant Intelligence (test daya ingat dengan menggunakan memori gambar)

STIMULASI
Stimulasi adalah perangsangan yang berasal dari lingkungan luar anak. Stimulasi merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan kognitif anak. Stimulasi yang terarah akan mempercepat perkembangan anak dibanding yang kurang mendapatkan stimulasi. Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai penguat (reinforcement).2

Waktu
Stimulasi yang dilakukan sejak dini dan berlangsung lama akan memberi manfaat lebih besar dibanding dengan stumulasi yang terlambat atau dalam waktu yang singkat. Stimulasi yang dilaksanakan sejak neonatal menujukkan manfaat terbesar pada kemampuan kognitif da pra akademik. Stimulasi yang dilakukan setiap hari dan dimonitor setiap bulan selama 3 tahun menunjukkan hasil nyata untuk perkembangan intelektual dan perilaku pada usia 36 bulan.5

Jenis Stimulasi
Berbagai parameter stimulasi perlu dipertimbangkan termasuk jumlah, tipe, waktu, pola, kualitas stimulasi serta faktor risiko yang ada. Bebagai macam stimulasi yang dianjurkan pada bayi adalah :2,5
1. Stimulasi Visual (gerakan, warna, bentuk)
2. Stimulasi Auditori (menyanyi, musik, suara ibu)
3. Stimulasi Taktil (pijat, posisi, fleksi ekstensi)
4. Stimulasi Pengecapan dan pembauan
Stimulasi Visual
Rangsang visual sebaiknya terdiri dan warna yang mencolok, kontras gelap dan terang (garis-garis, lingkaran-lingkaran sepusat, bentuk geometrik), obyek yang bergerak dan permukaan di sekitarnya. Wajah manusia adalah obyek yang paling disukai untuk menarik perhatian, bentuknya, gerakannya dan suaranya. Tatapan wajah yang sangat dekat dan bersuara mexnungldnkan stimulasi visual, auditori dan taktil secara bermakna. Perubahan posisi yang sering (dan telentang ke tengkurap, dan tempat tidur ke gendongan, dan kursi ke ayunan) memungkinkan bayi mendapatkan berbagai stimulasi penglihatan dan pemandangan yang berbeda.5

Stimulasi pendengaran
Untuk merangsang pendengaran, bersuara (menirukan suara bayi, berbicara, bernyanyi) adalah sangat penting. Jumlah dan tipe bahasa yang digunakan di rumah selama periode bayi merupakan faktor penting dalam perkembangan kecerdasan anak. Pemaparan terhadap berbagai musik, suara harian keluar masuk rumah, membacakan untuk bayi akan membantu rangsang pendengaran bayi. Tetapi jangan terlalu berisik dan mengganggu. Bayi yang dihujani dengan suara yang berisik (suara TV, radio, teriakan, kegaduhan yang konstan) terlatih menghilangkan gangguan tersebut sehingga kelak sulit untuk membedakan dengan menggunakan pendengaran dan perhatian.5
Stimulasi taktil (perabaan, sentuhan)
Dari semua rangsang sensori, rangsang raba (taktil) adalah yang paling penting untuk perkembangan yang sehat. Sensasi sentuhan adalah yang paling berkembang pada saat lahir, dan telah berfungsi sejak sebelum lahir, jauh sebelum fungsi sensasi lainnya berkembang. Memegang, menimang, mengurut, menepuk, menggoncang dan gerakan adalah sangat penting, termasuk memijat dan memandikan. Pengasuh dapat melakukan ini selama memberi makan, mengganti baju dan kegiatan rutin lamanya. lbü yang memberi botol dengan disangga, atau yang meletakkan bayi di tempat tidur dengan botol berarti merampasnya dan sensasi kehangatan dan kedekatan, juga merampas dan rangsang pandangan, pendengaran dan rabaan. Mainan yang mempunyai permukaan yang bervariasi (lembut, licin, fleksibel dan kaku) juga memungkinkan pengalaman perabaan yang beragam.5

Stimulasi pengecapan dan pembauan
Variasi rasa dan tekstur makanan memungkinkan rangsang pengecapan dan pembauan.5
Koordinasi visual dan gerak
Koordinasi mata tangan dapat diperkuat dengan mainan di tempat tidur bayi, bermain di ayunan, mendorong partisipasi selama makan, penempatan mainan di luar jangkauan anak yang masih memungkinkan bayi menggeser tubuhnya untuk meraihnya, menyediakan obyek yang dapat dipukulkan, ditumpahkan dan dimasukkan kembali (dumped and filled).5
Sebelum usia 3 tahun stimulasi diarahkan untuk mencapai semua aspek perkembangan (penglihatan, pendengaran, kognitif, personal sosial, motorik halus dan motorik kasar).5

Intensitas
Program yang intensif akan memberikan hasil yang lebih baik. Anak dan orang tua yang aktif dan teratur mengikuti program menunjukkan kemajuan yang lebih besar. Stimulasi yang berlebihanpun akan memperburuk ketidakstabilan sistem saraf otonom yang dapat menimbulkan hipoksia, apneu dan bradikardi, terutama pada bayi prematur.5
Infant Health and Developmental Program juga melaporkan bahwa tingkat perkembangan intelektual berkaitan erat dengan tingkat partisipasi orang tua.5

Macam Stimulasi dan cara berinteraksi
1. Penglihatan
• Menarik perhatian bayi, dekatkan wajah ibu
• Pertahankan kontak mata yang lama
• Ubah ekspresi wajah untuk mempertahankan interaksi visual, menggunakan senyuman, ekspresi kaget, gerakan lidah
• Gerakan kepala, ajak bayi anda untuk mengikuti gerakan kepala
• Gerakan, anggukan dan gelengkan kepala untuk mempertahankan interaksi
• Tirukan ekspresi wajah bayi
• Gerakan benda berwama terang untuk membantu pemfokusan bayi dan mengikutinya
• Pegang bayi posisi tegak sehingga ia dapat melihat melampaui bahu orangtua
• Atur kursi bayi sehingga Ia dapat melihat ke orangtua
2. Pendengaran
• Gunakan suara anda untuk berbagai cara berkomunikasi dengan bayi (bernyanyi, bergumam, berkotek, memanggil nama, bercakap)
• Berusaha agar bayi menggerakkan matanya dan kepalanya kearah suara anda
• Tim suara bayi
• Gunakan benda untuk menimbulkan suara (kerincingan, bel, musik)
3. Perabaan
• Membungkus, menggendon mengatur posisi
• Sentuhan, tepukan, urut/pijat bayi dengan cara menenangkan dan berirama
• Manfaatkan refleks bayi untuk interaksi (refleks isap, refleks memegang)
• Pegang dan timang bayi
• Ayunkan bayi ketika diam, dan hibur dengan menggoyang ketika rewel
• Bergerak berkeliling dengan bayi tegak di bahu
• Kombinasi gerakan badan dan wajah dengan mencium dan menyundul bayiMembungkus, menggendon mengatur posisi
• Sentuhan, tepukan, urut/pijat bayi dengan cara menenangkan dan berirama
• Manfaatkan refleks bayi untuk interaksi (refleks isap, refleks memegang)
• Pegang dan timang bayi
• Ayunkan bayi ketika diam, dan hibur dengan menggoyang ketika rewel
• Bergerak berkeliling dengan bayi tegak di bahu
Stimulasi Berdasarkan Kelompok Umur
Umur 0-3 bulan5
Berikan rasa nyaman, aman, tunjukkan perhatian dan kasih sayang dengan cara memeluk menggendong, menyelimuti, memberikan ASI, menghibur, membersihkan badan, mengganti popok basah, dll.
Rangsanglah penglihatan, perkembangan sosial dan kognitif bayi dengan cara menatap mata bayi dan jarak sekitar 30 cm, mengajak tersenyum, membalas senyuman, menggantung mainan yang bisa bergerak, menggerakkan mainan berwarna-warni ke kanan kiri, ke depan-belakang.
Rangsanglah pendengaran, perkembangan berbahasa, sosial dan kognitif bayi dengan: mengajak berbicara, menirukan ocehan bayi, menggerakan mainan yang berbunyi, memperdengarkan musik, dll.
Rangsanglah perkembangan gerak kasar dan keseimbangan dengan melatih bayi mengangkat kepala, dada, miring, tengkurap.
Rangsanglah perkembangan gerak halus, perabaan dan perkembangan kognitif dengan memberikan mainan yang dapat diraih, diraba, dipegang, digenggam , diremas.
Umur 3-6 bulan5
Lanjutkan perangsangan untuk umur 0-3 bulan tersebut di atas, ditambah dengan rangsang yang lebih kompleks.
Rangsanglah penglihatan, perkembangan sosial dan kognitif dengan bermain cilukba, bayi melihat bayangan dirinya di cermin, meraih mainan.
Rangsanglah pendengaran, perkembangan berbahasa dan kognitif dengan mencari sumber suara, mengulang-ulang beberapa kata.
Rangsanglah gerak kasar dan keseimbangan dengan melatih tengkurap, berguling, telentang, posisi duduk.
Rangsanglah gerak halus dan koordinasi dengan memegang menggunakan 2 tangan, meraup benda kecil, meraih benda-benda yang agak jauh, memasukan biskuit ke mulut, dll.
Umur 6-9 bulan5
Lanjutkan rangsangan untuk umur 3-6 bulan, ditambah dengan rangsang yang lebih kompleks.
Rangsanglah pendengaran, perkembangan berbahasa, emosi dan kognitif dengan memanggil namanya, memangil mama-papa, mengulang-ulang beberapa kata-kata.
Rangsanglah gerak kasar, keseimbangan dan kemandirian dengan latihan duduk, merangkak, berdiri, melangkah berpegangan.
Rangsanglah gerak halus, koordinasi visual, kognitif dan kemandirian dengan bersalaman, bertepuk tangan, melambaikan tangan, menunjuk ke benda-benda yang agak jauh.
Umur 9-12 bulan5
Lanjutkan rangsangan untuk umur 6-9 bulan, ditambah dengan rangsang yang lebih kompleks.
Rangsanglah penglihatan, pendengaran, perkembangan berbahasa, kognitif dan komunikasi dengan menyebutkan nama-nama orang di dalam keluarga, mengulang kata-kata yang sering digunakan pada bayi.
Rangsanglah perkembangan gerak halus, koordinasi, kognitif dan kemandirian dan sosial dengan memasukan benda ke dalam tempat dan mengeluarkannya lagi, minum dari gelas, menggelindingkan bola ke orang lain.
Rangsanglah gerak kasar dengan berdiri, berjalan berpegangan.
Peran orangtua
Jika orangtua mengembangkan lingkungan yang menarik dan merangsang maka bayi dapat mempelajari sendiri lingkungannya. Namun menurut Gordon, orangtua adalah guru utama anak dimulai pada masa bayi. Di samping menyediakan lingkungan belajar, contoh perilaku orangtua dan keterlibatan dalam bermain adalah penting untuk perkembangan anak.2,5
Lima peran orangtua menurut Gordon ( 5 P) adalah :5
1. Penyediaan lingkungan pembelajaran
2. Sikap orangtua dapat diramalkan (predictability)
3. Bermain dengan proses ping-pong
4. Mendorong bayi secara persisten untuk tetap tertarik dan didalam aktivitas
5. Jangan menjadi professor (selalu berbicara, tidak memberi kesempatan pada bayi).
Selain itu orangtua hams merangsang 4 R yaitu: 5
1) Responsiveness
2) Reasoning
3) Rasionality
4) Reading.
Sedangkan warm (kehangatan, mencintai, perduli) sangat diperlukan agar 5 P dan 4 R berfungsi baik.5
Orangtua dapat melakukan stimulasi melalui 2 cara yaitu melalui pengaturan lingkungan yang merangsang kegiatan sensori motor, atau dengan langsung berinteraksi dengan bayinya. Keterpaduan stimulasi gabungan pada bayi dan orang tua diharapkan akan mendapatkan hasil yang optimal.2,5

KESIMPULAN
1. Perkembangan tidak hanya ditentukan oleh genetik ataupun lingkungan (pola pengasuhan), tapi juga ditentukan oleh faktor biopsikososial.
2. stimulasi sangat berperan untuk meningkatkan perkembangan kognitif
3. orang tua sangat berperan dalam keberhasilan stimulasi anak.

Perhatian terhadap perkembangan anak tidak hanya dari orang dibidang kesehatan saja, demikian pula banyak sastrawan yang ikut memperhatikan anak lewat puisi sebagai berikut :2

DAFTAR PUSTAKA

1. Jusni IS, Ieda PS, Anindita KB. Pola asuh yang mendukung perkembangan anak. Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat, Departemen Kesehatan RI. Jakarta, 2001: 1-76.
2. Soetjiningih. Tumbuh Kembang Anak. Edisi ke-2. Jakarta: EGC, 1998 : 1-164.
3. Flusberg HT. Intelligence: Concepts, Theories and Controversies. Dalam : Levine MD, Carey WB, Crocker AC (editor). Developmental Behavioral Pediatrics. Edisi ke-3. Philadelphia: WB Saunders Co, 1999:706-12.
4. Needlman RD. Growth and Development. Dalam : Nelson MD, Behrman RE, Kliegman R, Arvin AM. (editor). Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-17.Philadelphia: WB Saunders Co, 2004 :1-33.
5. Soedjatmiko. Stimulasi psikososial pada bayi risiko tinggi. Dalam : Partini PT, Purnamawati S, Damayanti RS, dkk ( editor). Hot Topics in Pediatrics II. Jakarta: BP FKUI, 2002 : 28-46.
6. Rao MR, Brenner RA, Schisterman EF, Vik T, Mills JL. Long term cognitive development in children with prolonged crying. Arch Dis Child 2004; 89: 989-92.
7. Sommersfelt K, Andersson HW, Sonnander K, dkk. Cognitive development of term small for gestational age children at five years of age. Arch Dis Child 2000;83:25-30.
8. Hutton JL, Pharoah P, Cooke RW, Stevenson RC. Differential effects of preterm birth1 and small gestational age on cognitive and motor development. Arch Dis Child 1997;76:f75-f81.
9. Kooler H, Lawson K, Rose SA, Wallace I, Mc Carton C. Pattrens of cognitive development in very low birth weight children during the first six years of life. Pediatrics 1997; 99: 383-9.
10. Hollo O, Rautava P, Korhonen T, dkk. Academic achievement of small for gestational age children at 10 years. Arch Pediatr Adolesc Med 2002; 156: 179-87.
11. Anderson JW, Johnstone BM, Remley DT. Breast feeding and cognitive development : a meta analysis. AJCN 1999; 70:525-35.
12. Konseling menyusui: pelatihan untuk tenaga Kesehatan. UNICEF 1993.
13. Kessen W. The Development of Behavior. Dalam : Levine MD, Carey WB, Crocker AC (editor). Developmental Behavioral Pediatrics. Edisi ke-3. Philadelphia: WB Saunders Co, 1999:1-13.
14. Hendriani S. Tumbuh Kembang Anak Pasca Sepsis. Dalam : Penatalaksanaan Gawat Darurat di Bidang Infeksi. Banjarmasin: IKA FK UNLAM, 2002: 1-12.
15. Mc Grath E, Wypij D, Rappaport LA, Newburger JW, Bellinger DC. Prediction of IQ and achievement at age 8 years from neurodevelopmental status at age 1 years in children with D-Transposition of the great arteries.Pediatrics 2004; 114: 572-6.

About rsudbima

Warta RSUD Bima adalah Media Komunikasi RSUD Bima yang terbit sejak Tahun 2002

Posted on Maret 9, 2009, in Artikel, Kesehatan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: