Kandidiasis

Kandidiasis
Oleh : dr. IGN Darma Putra, Sp.OG*
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RSUD Bima.
(dimuat di Warta RSUD Bima edisi : No. 9/V/Maret 2007)

Pendahuluan
Kandidiasis vaginitis merupakan satu dari penyakit jamur yang terbanyak setelah vaginitis bakterial. Antara 20-25% dari kasus vaginitis disebabkan oleh infeksi kandida (1,2,3). Diperkirakan 75% dari wanita dewasa didunia pernah menderita kandidiasis vaginitis sekali selama hidup dan 40-50% akan mengalami episode kedua (2,3,4,5,6).
Wanita dengan kandidiasis vaginitis sering menghindar aktivitas seksual karena sakit, tidak nyaman selama berhubungan dan bisa menularkan penyakit pada pasangannya (6,7). Keadaan ini dapat mengganggu fungsi seksual dan gangguan perkawinan serta menurunkan kualitas hidup penderita (1,2).
Pengaruh psikososial penyakit bervariasi, sebagian sampai tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial, olah raga atau aktivitas yang lain, dan menyebabkan susah berkonsentrasi dalam pekerjaan. Oleh karena itu penanganan penyakit ini perlu dilakukan dengan baik (6,7).

Penyebab
Kandida albikan penyebab terbanyak yang dapat diisolasi > 80% dari penderita kandidiasis vagina. (6,8).
Kandida albikan dapat dijumpai dikulit yang normal, vagina dan disaluran pencernaan. Ditempat ini ia hidup sebagai saprofit tetapi pada keadaan tertentu dengan pemakaian antibiotika yang cukup lama atau keadaan hormonal yang mengubah ekologi sekelilingnya, maka kandida ini akan tumbuh dengan cepat dan berubah bentuk dengan membuat miselia sehingga jamur ini menjadi patogen (6).

FaktorPredisposisi
1. Faktor Lokal
Mode pakaian ketat dan pakaian dalam yang dibuat dari serat sintetis rnenyebabkan panas, kulit lembab, mengelupas dan permukaan mukosa genital sangat rentan terhadap infeksi kandida. Efek ini diperberat oleh kegemukan. Hal ini ditambah dengan serbuk pencuci yang gagal membunuh jamur yang mengkontaminasi pakaian dalam. Kulit yang sensitif terhadap spray vagina, deodoran dapat menimbulkan kerusakan integritas epitel vagina dan merupakan predisposisi dan infeksi (1,8).

Kandidiasis vaginitis dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Apabila persiapan hubungan seksual tidak adekuat, vagina relatif kering merupakan predisposisi terjadinya trauma mukokutaneus yang mempermudah terjadinya infeksi (1,3).
2. Kehamilan
Koloni vagina rata-rata meningkat selama kehamilan dan insiden keluhan vaginitis meningkat terutama pada trimester terakhir. Pedersen pada tahun 1969 menemukan 42% kandidiasis vagina pada kehamilan trimester terakhir dan menurun menjadi 11% pada hari ke tujuh setelah melahirkan. Kandungan glikogen pada sel – sel vagina meningkat dengan tingginya kadar hormon dalam sirkulasi. Ini mempertinggi proliferasi, pengembangbiakan dan perlekatan dari kandida albikan. Pertumbuhan jamur akan distimulasi dengan tingginya kadar hormon estrogen, karena hormon ini dapat menurunkan PH vagina menjadi suasana yang lebih asam (1,9).
3. Imunosupresi
Pemberian obat dalam jangka waktu yang lama terutama kortikosteroid sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kandida albikan, oleh karena obat ini bersifat imunosupresi. (1,2).
4. Diabetes Militus
Glukose yang tinggi pada urine dan peningkatan konsentrasi sekresi vagina pada diabetes melitus mempertinggi pertumbuhan jamur (1,9).
5. Pengobatan Antibiotika
Penggunaan antibiotika dapat mengurangi pertumbuhan bakteri yang sensitif tetapi tidak berpengaruh terhadap kandida. Antibiotika dapat membunuh bakteri gram negatif yang memproduksi anti kandida komponen, sehingga dapat merangsang pertumbuhan kandida (8).
6. Kontrasepsi Oral
Episode gejala dari kandidiasis vagina biasanya lebih banyak pada wanita dengan pemakaian kontrasepsi oral daripada wanita yang tidak. Dikatakan bahwa kontrasepsi oral menyebabkan perubahan-perubahan pseudogestasional pada epitel vagina. Penelitian yang dilakukan oleh Caterall dengan pil estrogen dosis tinggi rnendapatkan hasil bahwa penderita kandidiasis vagina gagal diobati dengan bermacam-macam obat dan segera sembuh setelah pemakaian kontrasepsi oral dihentikan. Tapi penelitian lain tidak dapat menunjukan perbedaan frekuensi kandidiasis vagina dengan pemakaian pil atau cara KB yang lain (1).

Patogenesis
Diperkirakan sekitar 20% dari wanita seksual aktif mengandung strain kandida albikan didalam saluran pencernaan dan vagina. Apakah kandida albikan dianggap sebagai bagian dari flora normal vagina yang asimtomatik masih kontroversial. Beberapa penulis menganggap beberapa perubahan lokal atau sistemik pada wanita dengan daya tahan tubuh yang lemah dapat memudahkan timbulnya kandidiasis vagina (1,3).
Pada pasien dengan koloni kandida albikan, sering dihubungkan dengan trauma vagina lokal yang kecil sebagai akibat dari hubungan seksual, pemasangan tampon vagina atau perubahan bakteri yang dihubungkan dengan pemakaian antibiotika. Tampaknya bahwa flora normal dapat menghasilkan komponen anti kandida yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan jamur (1,8).
Hipersensitifitas terhadap antigen kandida, penting dievaluasi pada beberapa wanita dengan jamur yang sedikit, dapat merupakan reaksi imunitas humoral yang mempunyai efek pada kandidiasis vagina. Sekresi antibodi mukosa mengandung sistem kompleks yang terbanyak adalah imunoglobulin A. Tingginya level Ig A pada sekresi vagina dapat mengurangi perlekatan kandida pada sel epitel dan mengurangi insiden vaginitis (1,8).
Imunitas seluler dihubungkan dengan gangguan fungsi T sel, seperti pada keganasan hematologi atau infeksi dengan human imunodefisiensi virus, sehingga dengan menurunnya fungsi T sel, dapat menyebabkan insiden dan beratnya penyakit kandida makin meningkat (1.2)
Kandidiasis vaginitis yang rekuren terdapat beberapa faktor endogen dan eksogen seperti diabetis melitus yang tidak terkontrol, penggunaan hormon estrogen, penggunaan antibiotika berspektrum luas dan adanya penurunan daya tahan tubuh. Faktor lainnya seperti penggunaan pakaian yang ketat dari bahan nilon dan tidak adanya ventilasi dibawah pakaian memudahkan timbulnya infeksi karena peningkatan keringat dan peningkatan suhu permukaan tubuh. Banyak wanita dengan kandidiasis vagina rekuren tidak ditemukan faktor predisposisinya (8,9).
Infeksi ulangan kandidiasis vaginitis dianggap berasal dari saluran pencernaan oleh karena pada suatu penelitian organisme kandida albikan diperoleh dan 100% kultur rektal pada wanita kandidiasis vaginitis merupakan strain yang sama (8,10).
Peran transmisi hubungan seksual yaitu ditemukannya koloni kandida dikulit penis kira – kira 20% dari laki – laki pasangan wanita dengan kandidiasis vagina yang rekuren. Pada sulkus koronarius pada laki – laki yang tidak disirkumsisi. Kolonisasi asimtomatis pada penis laki – laki 4 kali lebih sering pada laki – laki pasangan seksual dari wanita yang terinfeksi. Strain yang ditemukan pada kedua pasangan seksual biasanya identik (8),
Ada bukti bahwa wanita dengan kandidiasis vagina rekuren mempunyai kelainan antigen kandida spesifik dalam sel mediated imuniti. Penelitian ini memberikan hipotesa bahwa adanya imunodefisiensi didapat yang selektif pada wanita dengan kandidiasis vagina yang rekuren, dengan rusaknya respon T limposit (8).

Gejala Klinis
Kandidiasis vaginitis dijumpai pada masa seksual aktif dan dapat timbul pada kehamilan. diabetes militus, penggunaan obat-obat imunosupresi dan antibiotika spektrum luas. Peradangan pada vagina disertai gejala-gejala subyektif berupa gatal-gatal, nyeri dan rasa panas. Vulva tampak bengkak, merah dan berfisura (5,10,11,12).
Pada pemeriksaan inspikulo mukosa vagina tertutup pseudomembran yang berwarna putih seperti keju. Apabila pseudomembran diangkat akan tampak bercak-bercak perdarahan. Sekret biasanya sedikit seperti air, tapi kadang-kadang banyak dan berwarna putih, mengandung noda-noda seperti keju atau purulen. Labia mayora tampak bengkak dan merah tertutup oleh lapisan putih. Lesi-lesi ini terasa amat sakit sehingga menimbulkan dispareunia. Sedangkan sakit saat kencing disebabkan oleh karena urine melewati vagina yang meradang (1,5,10).

Diagnosis
Diagnosis kandidiasis vagina ditegakan berdasarkan gejala-gejala klinis yang khas dan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan mikologi.

Penanganan
1. Penanganan Kandidiasis Vaginitis Akut.
Pengobatan kandidiasis bersifat pengobatan topikal. Pengobatan topikal adalah aplikasi obat pada selaput lendir yang terkena dalam jangka waktu cukup lama untuk mengeleminasi jamur penyebabnya. Disamping pengobatan topikal perlu dicegah autoinfeksi dari saluran pencernaan, reinfeksi dari partner seksual, serta pengobatan faktor predisposisi. Faktor kebersihan penderita seperti menghindarkan pemakaian pakaian dalam dari bahan sintetik dapat mempengaruhi keberhasilan pengobatan (1,8).
Beberapa Jenis obat topikal dapat digunakan untuk pengobatan kandidiasis vaginitis. Nistatin adalah suatu anti jamur golongan polien yang telah diisolasi dan streptomyces naursei pada tahun 1949 dan bersifat fungisidal, adalah obat pertama . Nistatin diberikan dalam bentuk tablet vagina atau pesarium dengan cara dimasukan sedalam – dalamnya kedalam vagina 2 kali 100.000 iu sehari selama 7 – 14 hari. Apabila ada infestasi kandida albikan disaluran pencernaan dapat diberikan nistatin tablet (500.000 iu) dengan dosis 4 kali 500.000 iu sehari selama 2 minggu untuk mencegah autoinfeksi (5,6,8 11,12).
Mikonazole mempunyai cara kerja dengan mengadakan desintegrasi jamur. Dosis yang dianjurkan tergantung dari sediaan yaitu :
o 2% krim 5 gram intravagina selama 7 hari.
o 200 mg supositoria vagina diberikan selama 3 hari.
o 100 mg supositoria vagina diberikan selama 7 hari.
Pengobatan lokal ini memberikan hasil yang memuaskan tanpa efek samping (1,5,6,8,11,13.14).
Klotrimazole bersifat fungistatik. cara kerjanya berdasarkan kemampuannya untuk menghalangi terbentuknya asam amino esensial jamur. Dosis yang dianjurkan :
o 1% kream 5 gr intra vagina selama 7-14 hari.
o 100 mg tablet vagina diberikan selama 7 hari.
o 100 mg tablet vagina diberikan 2 kali selama 3 hari.
o 500 mg tablet vagina dosis tunggal.
Pengobatan kandidiasis vaginitis dengan klotrinazole topikal berhasil dengan baik tanpa efek samping. Pengobatan sistemik secara oral dengan dosis terapi menimbulkan berbagai efek samping yang mengganggu yaitu rasa nyeri di epigastrium, kejang otot perut, mual, muntah dan diare (5,6,8,15).
Ekonazole suatu derivat imidazole yang mempunyai struktur mirip dengan mikonazole. Dosis yang diberikan adalah satu supositoria vagina 150 mg ekonazole diberikan selama 3 hari (5,6,13,15).
Ketokenazole merupakan golongan imidazol dengan kasiat anti jamur spektrum luas. Ketokenazole diberikan peroral dengan dosis 2 kali 200 mg selama 5 hari. Lama pengobatan tergantung gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Efek samping obat ini ringan hanya berupa gangguan gastrointestinal ringan dan pruritus (5,6,15).
Flukonazole merupakan anti jamur oral yang bekerja melawan kandida albikan. Obat ini diserap dengan baik pada pemberian peroral. Dosis flukonazole diberikan dengan dosis tunggal 150 mg (5.8,13,14).

2. Kandidiasis Vaginitis Yang Rekuren.
Ada 2 teori yang biasanya dikemukakan dalam berbagai literatur tentang sumber dari organisme penyebab pada infeksi yang rekuren. Teori reinfeksi mengatakan bahwa organisme penyebab menginfeksi kembali kedalam vagina. Sumber dari infeksi adalah dari saluran pencernaan atau dari hubungan kelamin. Sedangkan menurut teori relaps mengatakan bahwa terjadi kegagalan dalam mengeradifikasi kandida dari vagina terjadi kegagalan terapi. Adanya kandida persisten dalam lumen vagina yang sulit dideteksi dengan swab vagina, kemudian infeksi muncul kembali dalam beberapa minggu atau bulan setelah pengobatan dihentikan (9).
Pengobatan kandidiasis vagina yang rekuren adalah sebagai berikut:
 Ketokenazole 400 mg tiap hari selama 14 hari dilanjutkan 100 mg setiap hari selama 6 bulan efektif untuk mengurangi kekambuhan menjadi hanya 5% (1,3,8,13,14).
 Clotrimazole 500 mg vagina supositoria diberikan tiap minggu selama 6 bulan hanya sedikit lebih efektif dibandingkan dengan plasebo (6,8).
 Flukonazole 150 mg diberikan dosis tunggal setiap bulan 1 – 4 hari sesuda-h—menstruasi selama 12 bulan. Selama phase pencegahan dengan 6% pasien mengalami kandidiasis vagina yang rekuren, sedangkan yang diberikan plasebo mengalami rekuren 18% (8,9,13).
 Pengobatan pada suaminya dilakukan bila didapatkan balanopostitis.
Pengobatan ini memakai krim nistatin sekali sehari selama 2 mmggu (6,9).
3. Penanganan Kandidiasis Vaginitis Pada Wanita Hamil.
Sejak adanya bencana thalidomid pada awal tahun 1960, pemberian obat pada wanita hamil banyak mendapat perhatian. Penelitian yang dilakukan oleh WHO mendapatkan 80% wanita hamil pernah mendapatkan pengobatan. Pasien senna menggunakan obat sebelum mengetahui kehamilan mereka. pengobatan paaa wanita hamil perlu dipikirkan mengenai efek sampmg pada fetus (14).
Pengobatan kandidiasis pada wanita hamil adalah sebagai berikut.
 Nistatin tablet vagina dibenkan dua kali 100.000 iu sehari selama 7-14 hari cukup aman pada wanita hamil. Penelitian yang dilakukan oleh Rosa FW.Baun C. tahun 1987 pada 230 wanita hamil menyatakan nistatin aman digunakan pada wanita namil (16).
 Mikonazol bila digunakan pada wanita hamil sesuai dosis terapi dikatakan tidak berhubungan dengan peningkatan kelainan kongenital (16).
 Penggunaan klotrimazol 500 mg tablet vagina dosis tunggal pada wanita hamil cukup aman (16).
 Pengunaan flukonazol pada wanita hamil tidak dianjurkan. Tapi tidak dapat disangkal bahwa beberapa wanita hamil telah mendapat pengobatan flukonazol. Rubin dkk melakukan penelitian 240 wanita hamil yang telah mendapat pongobatan flukonazol 150 mg dosis tunggal menemukan angka abortus kurang dari 10% dan angka kelainan kongenital 2,5%. Angka ini tidak berbeda jaun aengan angka yang didapatkan pada populasi umum (14).

RNGKASAN
Kandidiasis vaginitis merupakan satu dari penyakit jamur terbanyak setelah vaginitis bakterial. Diperkirakan 75% wanita didunia ini pernah mendrita kandidiasis vagina selama hidupnya minimal sekali. Kandidiasis vagina disebabkan oleh kandida albikan.
Faktor predisposisi dari kandidiasis vaginitis adalah kehamilan, imunosupresi, gangguan metabolik, pengobatan antibiotika dan kontrasepsi oral.
Kandidiasis vaginitis mempunyai gejala utama adalah gatal pada vagina, vulva seperti terbakar, disuri, dispareunia, adanya cairan vagina yang kental seperti keju.
Untuk menegakan diagnosis kandidiasis vaginitis perlu dilakukan pemeriksaan mikioskopis untuk mencari adanya kandida albikan.
penanganan kandidiasis vaginitis yang penting adalah mengoreksi faktor lokal dan sistemik untuk mencegah rekurensi penyakit. Beberapa obat anti jamur sangat efektif untuk mengurangi gejala kandidiasis, tapi bila tidak diikuti dengan koreksi terhadap faktor predisposisi maka sering terjadi rekurensi. (Rd)

DAFTAR PUSTAKA
1. Kinghorn G R. Medical Over view of vaginal candidiasis. Int J Gynecol Obstet. 2002 ; 37 : 3 – 7.
2. Sobel J D, Brooker D, Stein G E et al. Single oral dose fluconazole compared with conventional clitrimazole topical therapy of Candida vaginitis. Am J Obstet Gynecol. 2005 ; 172 : 1263 – 7.
3. Rees T, Phillips R. Multicenter comparison of one-day oral therapy with fluconazole or itraconazole in vaginal candidiasis. 2002 ; 37 : 33-8
4. Reyes C, Edelman D E, Bruin M F. Clinical experience with single-dose fluconazole in vaginal candidiasis. A review of the worldwide database. Int Gynecol Obstet. 2002; 37:9-15.
5. Soper D E. Genitourinary Infection’s and sexually transmitted diseases . In : Berek J S , Adashi E Y, Hillard P A , lids. Novak’s Ciynccolouy. 12 th ed._Baltimore : William & Wilkins, 1996 ; 432 – 5.
6. Sobel J D. Antimycotic azole resistance in vulvovaginal candidiasis. Int Gynecol Obstet. 2003 38 : 39 – 43.
7. Yule V. Treatment options. A patients view point. Findings from a pan -European survey. Int Gynecol Obstet. 2004 ; 45 : 45 9.
8. Roy S. Vulvovaginitis. In : Mishell D R, Brenner P F, Eds. Management of common problem in obsterics and gvnecology. 3 rd ed. Oxford : Black Well. Scientific Publications, 1994 ; 278 – 14.
9. Sobel J D. Fluconazole maintenance therapy in recurrent vulvovaginal candidiasis. Int J Gynecol Obstet. 2003 ; 39 : 17-24.
10. Fong I W. The rectal carriage of yeast in patients with vaginal candidiasis. Clin – Invest – Med 1994 ( Oct); 17 (5): 426- 31.
11. Hutabarat H. Radang dan beberapa penyakit lain pada alat-alat genital wanita. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin A B , Rachimhadhi T. Eds. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, T994 ; 279 – 89.
12. Eschenbach D. Sekret vagina. Dalam : Duenhoelter J H. Ed. Ginekologi Greenhill (terjemahan). Ed. 10. Jakarta : EGC. 1988 : 93-9.
13. Westrom L , Haglund A, Svensson L. Fluconazole versus econazole in treating vaginal candidiasis. Int Gynecol Obstet. 2002; 37 : 29 – 31.
14. Rubin PC, Wilton L V. Inma: WHW, Fluconazole and pregnancy : result of a prescription event monitoring study. Int, J Gynecol Obstet. 2003 ; 35 : 25 – 9.
15. Bahroelim B. Obat Jamur. Dalam : Gan S, Seliabudy R, Sjamsudin U, Bustami Z S, eds. Farmakologi dan therapy. Edisi 3. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1987 : 436 – 9.
16. Briggs G G, Freeman R K, Yaffe S J. Drugs in pregnancy and lactation. 3 rd ed. Baltimore :

About rsudbima

Warta RSUD Bima adalah Media Komunikasi RSUD Bima yang terbit sejak Tahun 2002

Posted on Maret 9, 2009, in Artikel, Kesehatan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: